Uncategorized

Teknik Menulis Fitur ala Majalah Tempo

(Pengantar: Artikel panjang ini ditulis oleh Redaktur Majalah Berita Mingguan Tempo. Saya tidak ingat persis, bagaimana file tulisan ini bisa ada di koleksi saya. Tetapi mungkin ini berasal dari ketika saya bekerja sebagai Redaktur Pelaksana di Majalah D&R, sekitar tahun 1998-1999. Waktu itu banyak wartawan eks-Tempo pasca pembreidelan 1994 yang bekerja di sana. Artikel Teknik Penulisan Feature ini saya muat di blog sebagai bahan belajar, dan sumbangsih buat dunia jurnalisme Indonesia. Karena tulisannya panjang, akan dibagi dalam beberapa bagian. Semoga para jurnalis senior Tempo yang menyusun tulisan ini juga mendapat pahala, karena berbagi ilmu penulisan. Amiiinnn…. Satrio Arismunandar)

****

Dalam menulis berita di surat kabar yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, tapi dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature: “mengisahkan sebuah cerita”.
Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Bila seorang wartawan balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, bila reporter itu melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis feature, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.

“Piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah — hingga mudah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. Feature yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di surat kabar di halaman pertama, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.

Contohnya:
Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam yang lalu.
Pukul 4.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.
Pukul 5.15 sore, ia mecoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.
Segera setelah pukul 7.00 malam ia kesenggol mobil ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang menguber padagang heroin.
Pukul 9.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.
Brury kembali ke rumah sakit itu lagi pukul 11.40 malam setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.
Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 12.05 dini hari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinas Brury di lampu lalu lintas. Sekali ini, ia tidak terluka.
Akhirnya pukul 12.30 Brury pulang, Ketika ia sampai di tempat parkir, ia menerima satu laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.

Reporter yang menulis cerita Brury sebagai feature, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. Feature itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:

Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka kecil (ringan) pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan mobil ringan.
Brury, 31 tahun, digigit anjing pukul 5.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 09.50 malam; dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika ia jatuh dalam suatu pengejaran pukul 11.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat setelah kecelakaan itu.
Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi pada satu pertengkaran di bar.
Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan Ny. Amenah di persimpangan Kuningan pukul 12.05 hari ini. Tidak ada seorang pun yang luka.

Perhatikan bahwa berita lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan dalam cerita itu, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita — tapi penting ~– seperti celana sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian motor, karena itu terpisah dan tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka atau hampir luka yang dialami seorang polisi. Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita yang mana yang lebih enak ditulis?

AKURAT, BUNG!

PENULIS feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.
Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature.
Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.

Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).
Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.

Ada beberapa derajat “kefiktifan”. Yang paling mencolok ialah bila seorang membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan. Tapi tak banyak reporter yang segila itu.
Godaan yang paling sering terjadi, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak tokoh laporannya untuk bikin ramai cerita. Tokoh yang diwawancarai dengan demikian bersekongkol dalam menjual cerita yang condong palsu.

Satu teknik lagi yaitu dengan menaruh satu kalimat (untuk jadi kutipan) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda….” dan menunggu anggukan tanda setuju — entah sungguhan atau khayalan.
Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang terdapat di dunia pers, dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan bila rahasianya terbongkar.
Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi suksesnya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi kepadanya.

MENGUMPULKAN INFORMASI DENGAN TEPAT

Ketidakakuratan (kesalahan) dalam penerbitan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian (kesembronoan) yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.
Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta:

1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan namanya, umurnya, alamatnya, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus mempunyainya untuk mengadakan kontak dengan sumber berita itu.
2. Bila nama, umur, dan alamat Anda dapat dari tangan kedua, harap dicek pada buku telepon. Bila Anda menyebut umurnya, tanyakan pada sumber berita untuk membetulkannya.
3. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda selalu harus mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi bila ia tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat itu atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.
4. Bila tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah dulu bahwa Anda mengetahui hal itu. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis sedangkan ia tidak tahu atau tidak punya latar belakang sama sekali tentang hal itu.

Mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembacanya. Maka, seorang wartawan berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan kapten itu untuk mencarikan terjemahan istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima awam.
Umumnya wartawan mengambil peranan sebagai seorang pembaca kebanyakan, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisi itu.

5. Bila menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya dan menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan itu.

Statistik harus dicermati benar, dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka itu.
Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan polisi harus dicek benar-benar sebelum dipakai sebagai petunjuk tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.
Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk menipu masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.

bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s