Uncategorized

Teknik Menulis Feature ala Majalah Tempo (Bagian 2)

PENGEJAAN DAN PEMAKAIAN KATA

“Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila kau tidak bisa mengeja dengan tepat atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, kau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar.”
Teguran ini dikatakan seorang editor yang marah karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran itu dan, sejak saat itu, memakai kamus secara serius.

Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah satu keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.
Tak banyak reporter yang bisa gampang ingat ejaan, memang. Tapi kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika diuber deadline.

Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan pada naskah-naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu seorang editor, mau tak mau, dituntut untuk selalu awas ketika memeriksa naskah. Ia harus selalu curiga bahwa naskah yang ia baca itu mengandung salah eja.

Bila salah ejaan sudah tercetak, banyak hal bisa terjadi — dan tidak satu pun yang baik. Kepercayaan orang pada media itu rontok. Salah cetak mengurangi citra media tersebut sebagai sesuatu yang profesional, dan membuat isinya selalu dicurigai para pembaca cerdik pandai. Bila koran ceroboh terhadap kata-kata, bagaimana fakta-fakta di dalamnya bisa dipercaya?

Kepercayaan orang pada reporter bersangkutan juga luluh. Bila seorang reporter terlalu sering melakukan kesalahan ejaan, bisa jadi ia memang tak cakap, tak cocok menjadi reporter, dan seorang editor bisa memindahkannya ke bagian lain, atau mendepaknya.

Kesalahan pemakaian kata bisa berakibat serupa. Banyak orang salah memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis artinya. Kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi segala maaf habis bila seorang reporter salah menerapkan kata dalam medianya.
Editor yang menginginkan standar profesional yang tinggi mungkin akan terlalu njlimet pada hal-hal sampai sekecil-kecilnya.

Kata-kata yang dipakai secara salah bisa mengubah arti suatu cerita. Dalam sebuah tulisan yang membahas soal utang dan piutang perusahaan, misalnya, penutupnya berbunyi demikian: “Seorang direktur perusahaan tekstil mengatakan, di akhir tahun anggaran nanti perusahaannya akan memiliki piutang yang jauh lebih besar daripada utangnya. Itu dikarenakan tiadanya kontrol penagihan.”

Andai saja antara kata “piutang” dan “utang” tertukar tempatnya, bisa saja sejumlah pemegang saham perusahaan tekstil itu akan buru-buru menjual sahamnya karena perusahaan itu rugi –padahal yang terjadi sebaliknya, meski keuntungan itu masih berupa piutang. Jelas, perbedaan antara kedua kata itu berpengaruh besar pada sikap para pemegang saham.

Akibat kesalahan pemilihan kata, bisa fatal. Nama baik surat kabar merosot. Nama baik reporter sendiri juga rusak. Dalam rapat pemegang saham perusahaan tekstil tersebut, baik direksi maupun pemegang saham tak lagi punya respek besar kepada wartawan itu. Akibatnya, wartawan ini kehilangan sumber informasi.

PEMAKAIAN BUKU PEDOMAN

Untuk mempertahankan citra keprofesionalan, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan. Baik reporter, penulis, dan redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk mendapatkan keseragaman.
Ada beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu:

1. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional.
2. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang pembaca akan mengambil kesimpulan salah: bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata persen, prosen, atau %.
3. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber deadline, keraguan bisa berakibat mahal.

Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus: untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal yang akan mengurangi citra keprofesionalan Anda.

MENANGKAP KESALAHAN

Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya, maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah itu. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat kesalahan. Tapi wartawan lain memerlukan membaca dan membuka kamus berkali-kali untuk mengecek pekerjaannya.
Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.
Jangan mengecek ejaan atau pemakaian kata pada saat menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas dan itu memakan waktu.

Tapi, segera setelah cerita selesai, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apa pun, ceklah kata itu sampai Anda yakin bahwa itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.
Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.

Untuk beberapa jenis feature mungkin Anda perlu bekerja beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan sistematis. Kemudian sebelum menyerahkan cerita itu, saringlah lagi kesalahan yang mungkin ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyala.
Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, tulislah. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata itu akan sangat membantu.
Dan bila didesak oleh deadline, sementara itu Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.

MENGAIL, DENGAN “LEAD”

KUNCI untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan.
Setiap wartawan selalu sadar akan perlunya lead.Keranjang sampah penuh dengan lead tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.
Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.

1. Menarik pembaca untuk mengikuti cerita.
2. Membuat jalan supaya alur cerita lancar.

Banyak pilihan lead; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Dan masih ada yang lain, yaitu lead untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.
Wartawan jarang menyadari, termasuk lead yang bagaimana yang dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead, tampaknya perlu diketahui berbagai lead, seperti di bawah ini.

Lead ringkasan

Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan “berita keras”. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya.
Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang akan laku dengan sendirinya. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya bila diuber deadline, atau bila ia bingung untuk mencari lead yang lebih baik.

Beberapa contoh lead ringkasan:
Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (TEMPO, 30 Januari 1993, “Komisi di Jatinegara”).
Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot 
suami
 (TEMPO, 1 Januari 1994, “Two in One Versi Tuban”).

Dari setiap contoh jelas bahwa yang akan diceritakan dalam cerita itu sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu, setelah membaca lead. Kata “kasus” dalam contoh pertama menunjukkan bahwa cerita yang akan disampaikan adalah tentang ketidakberesan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan dalam lead yang kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan adalah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.
Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidakberesan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu. Yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir tiap rumah tangga: kehadiran orang ketiga.

Lead yang bercerita.

Lead ini, yang digemari penulis fiksi (novel atau cerita pendek), menarik pembaca dan membenamkannya. Tekniknya adalah menciptakan satu suasana dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat kekosongan yang kemudian secara mental akan diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengahÿ2Dtengah kejadian yang berlangsung.
Hasilnya, berupa teknik seperti yang dibuat dalam film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk Anda menyaksikan film horor?

Lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalkan seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.
Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom orang Serbia. Ini senja di Bosnia, langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu. (TEMPO, 27 Maret 1993, “Potret Berdarah dari Dalam”).

Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai lead bercerita dalam cerita feature untuk melaporkan peristiwa peristiwa kejahatan.
Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (TEMPO, 25 Januari 1992, “Tragedi di Kebun Karet”).

Feature lain bisa begini:
Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya(TEMPO, 16 November 1993, “Suka Duka Sang Penyelam”).

Lead ini mempunyai keuntungan karena bisa menggaet lebih efektif pembaca daripada lead lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan – atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.
Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita yang bisa cocok diberi lead seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan lead macam ini akan menghasilkan lead yang tidak wajar, atau lead itu akan merusakkan cerita.

bersambung …

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s