Uncategorized

Saat yang Muda yang Bicara

“Sebentar anak muda, sebaiknya yang berbicara adalah yang lebih tua,” kata Umar bin Abdul Aziz kepada seorang pemuda yang mewakili kaumnya. Anak muda itu adalah wakil delegasi salah satu kabilah yang menyengaja datang untuk mengucapkan selamat kepada khalifah barunya.

Pemuda itu tersenyum. “Tenanglah wahai Amirul Mukminin,” jawab anak itu. “Sesungguhnya seseorang itu hanya diukur dengan lisan dan hatinya. Apabila Allah memberi karunia kepada seorang hamba berupa lisan yang fasih berbicara dan hati yang terjaga, berarti Dia telah memberikan mutiara kepadanya,” jelas sang pemuda. “Wahai tuan, kalau setiap urusan itu ditentukan oleh faktor usia, pasti disini ada orang yang lebih layak menjadi khalifah dari Anda.” Selesai berbicara, anak itu terdiam.

“Baiklah, bicaralah nak,” pinta Amirul Mukminin.

“Kami datang untuk memberi selamat,” kata pemuda itu membuka kalimatnya. “Kami datang dari negeri kami. Kami bersyukur kepada Allah yang telah memberi nikmat kepadamu dan kepada kami. Kami datang bukan karena takut atau mengharap sesuatu darimu. Bila harapan, kami sudah merasakannya sampai di negeri kami. Kalau takut, Allah telah memberi keamanan kepada kami dengan sebab keadilanmu kepada tetanggamu,” santun pemuda itu berbicara.

“Tambahlah nasihat untukku nak,” ujar Amirul Mukminin.

“Baiklah,” balasnya. “Wahai Amir, banyak orang yang terlena oleh kemurahan Allah, angan-angan kosong, dan sanjungan manusia. Jangan sampai semua itu membuat tuan terlena dan tergelincir.”

“Semoga Allah memberkahimu, anakku.”

 

Saat bicara yang muda, ia buktikan pada dunia bahwa ia bisa. Seperti umumnya, Khalifah Umar bin Aziz juga seperti kita. “Beri waktu pada yang tua, kelak akan ada saatnya untuk yang muda.” Namun, ia rela ketika yang muda ternyata memesona. Dengan dua senjata; lisan yang fasih berbicara dan hati yang terjaga Umar segera tahu bahwa dibalik usia belia, sang pemuda memiliki karisma. Memang tak semua, tapi ia adalah satu diantaranya.

    

Saat bicara yang muda, tak melulu soal usia. Pengertian yang muda dalam Islam, jauh berbeda dengan hukum manusia. Dalam difinisi PBB, usia dibawah 18 tahun disebut masa anak-anak. Sementara dalam Islam, pengertian anak-anak adalah yang belum baligh. Yang putra ditandai dengan bermimpi sedangkan yang putri dimulai dengan keluarnya darah haid pertama. Berbeda-beda, tapi rata-rata di usia tiga belas sampai empat belas. Konsekuensi utama pada usia baligh adalah kewajibannya melaksanakan syariat. Islam menyebutnya mukallaf. Ia bertanggung jawab terhadap segala perkataan, perbuatan, cita-cita, dan tujuan hidupnya. Di hari kiamat kelak, ia akan diberi pertanyaan khusus. Rasulullah pernah menjelaskan hal ini sebagaimana di sampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud ra.

“Kelak pada hari kiamat,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Tirmizi, “Kaki seorang manusia tidak akan tergelincir dari sisi Rabbnya (ke surga atau neraka), hingga lima perkara ditanyakan kepadanya; tentang usia dihabiskan untuk apa, tentang masa muda digunakan untuk apa, tentang harta didapatkan dari mana dan dibelanjakan untuk apa, dan tentang ilmu apa yang perbuat dengannya.”

Tentang masa muda, Allah memberikan pertanyaan khusus agar kita memerhatikan bahwa masa ini memiliki kedudukan khusus bagi manusia. Dari hadits tersebut, tak layak dan tak bijak rasanya menghabiskan usia untuk senda gurau belaka. Yang perlu kita pikirkan, apa yang akan kita sampaikan kelak saat ditanya.

Jika melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan (bahasa aksi), kalau tidak mampu dengan lisan (bahasa kata-kata), kalu tidak mampu dengan hati (bahasa hati).

Dalam terminology syariat, ketika berbicara tentang iman, Ibnul Qayim membagi kata menjadi dua; Qoul Qolbi dan Qoul lisan. Perkataan hati adalah tentang keyakinan, semangat, dan tekad yang muncul dari hati. Sedang perkataan lisan adalah cerminan dari hati. Seperti sebuah cawan, ia akan mengeluarkan apa yang ada didalamnya. Secawan teh tak akan mengeluarkan susu. Sebaliknya, secawan penuh susu akan terjaga dari mengeluarkan kopi pahit.       

Di sini, saat yang muda yang bicara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s