Uncategorized

Potensi dan Peran

Badannya kecil, kurus, usianya belum genap 13 tahun. Namun, semangatnya besar, cita-citanya tinggi, dan pandangannya jauh melebihi umurnya. Pemuda itu bernama Zaid.

Ketika mendengar kaum muslimin bersiap menuju lembah Badar untuk berperang, hatinya pun tergerak. Dengan penuh kesungguhan, ia bawa pedangnya yang lebih panjang dari tubuhnya dan berangkat bergabung dengan pasukan kaum muslimin.

Ketika melihat tubuhnya yang kecil dan usianya yang masih sangat muda, Rasulullah pun menolak keikut sertaanya dalam pertempuran itu. Rasulullah khawatir terjadi sesuatu dengan anak kecil ini.

Kenyataan yang mungkin sangat pahit diterima olah seorang pemuda pada puncak semangatnya. Ya, saat ghirah keislaman sedang tinggi-tingginya, “sang murabbi” menghalanginya ikut serta dalam barisan. Rasa sedih dan kecewa yang memenuhi rongga dadanya membentuk gumpalan-gumpalan yang kemudian meleleh menjadi tangis. Masih dengan air mata tersisa dikelopak mata, ia temui ibunda tercinta. “Rasulullah melarang saya ikut berjihad,” suaranya bergetar mengadu.

 Ibunya adalah kader dakwah pilihan sehingga yang keluar dari lisannya kemudian adalah nasihat pembangkit jiwa. “Nak,” katanya, “Jangan bersedih. Kamu masih bisa berkhidmat kepada Islam dengan cara yang lain. Bila tidak dengan pedang, kamu masih bisa berjihad dengan lisan dan pena.”

Ibu yang bijak yang juga kader dakwah pilihan ini, menyadarkan anaknya, dan juga kita, bahwa ruang lingkup perjuangan ini sangat luas dan beragam. Ditambah, potensi individu yang berbeda-beda dan sama beragamnya. Tertolak di satu pintu, bukan berarti tertutup seluruh pintu perjuangan. Selama kita mau mengetuk pintu-pintu yang lain, tentu masih ada yang mau menerima kita, apapun peran kita.

“Kamu harus tekun belajar membaca dan menulis serta menghafal Al-Qur’an dengan baik,” nasihat sang ibu. “Setelah itu, setelah kau pintar, kita akan menghadap Rasulullah untuk mengetahui bagaimana cara menggunakan potensi yang kita miliki untuk berkhidmat kepada Islam,” bijak sang ibu memberi nasihat.

Ketika Zaid telah menghafal 17 surat Al-Qur’an dan pandai tulis baca, sang ibu mengajaknya bertemu Rasulullah. “Wahai Nabi,” ujar sang ibu membuka dialog, “anak kami telah pintar baca tulis, dia juga hafal 17 surat Al-Qur’an dengan baik dan benar. Dengan itu semua ia ingin dekat denganmu dan selalu mendampingimu. Jika Anda berkenan wahai Rasulullah, dengarkanlah bacaanya.”

Rasulullah pun menyimak bacaan Zaid dan tahu betul kemampuan dan potensi yang ada pada pemuda itu. Dari sinilah peran pemuda ini bermula. “Wahai Zaid,” ujar Rasulullah, “pelajarilah bahasa Yahudi untukku. Sebab, aku tidak merasa tenang dengan apa yang aku katakana.”

Dengan wajah sumringah tugas itu pun dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dan tampak bahwa pilihan Rasul itu memang tepat. Pemuda 13 tahun ini bisa menguasai bahasa Ibrani dalam waktu yang sangat singkat. Tak hanya berbicara, bahkan ia mampu menulis laksana seorang Ibrani.

Kelak pada masa khalifah Abu Bakar, di usianya yang 22 tahun ia memikul satu tugas yang sangat berat. “Wallahi,” katanya ketika menggambarkan betapa beratnya tugas itu, “Kalau saja mereka menyuruhku memindahkan gunung dari tempatnya, niscaya hal itu akan lebih mudah dan lebih ringan bagi saya daripada yang mereka perintahkan kepadaku untuk mengumpulkan Al-Qur’an.”

Saat yang muda yang bicara, tertutupnya casting untuk satu peran dalam amal jamai bukan berarti ia harus undur diri. Amal Islami membutuhkan banyak individu dengan potensinya masing-masing asal azamnya kuat dan semangatnya terpatri. Terkadang kita lalai menilai diri. Merasa ingin segera mengambil tempat dalam barisan. Tidak sepenuhnya salah memang bila ingin segera melakukan kebaikan, tapi setidaknya ada kaidah yang dilanggar. Keinginan kita bersegara turun di medan jihad seringkali justru melalaikan I’dad (persiapan). Berkoar terus kita tentang jihad, tapi kita lalai menempa fisik, lalai kita mengasah iman dan akal. Padahal, jangan-jangan ketika kita telah berada dimedan, alih-alih mengefakuasi justru kita yang diefakuasi.  

Seperti halnya berbicara nikah pada saat yang belum tepat. Setiap hari yang dibaca buku-buku nikah, obrolan pun tak lepas dari ukhti A, B, C atau di majelis yang lain, yang beredar adalah nama Akhi D, E, F. Akibatnya, setiap ada akhwat (ikhwan) berlalu di depan kos-kosan, segera otak bersimpul, “wah, jangan-jangan itu calon istri (suami) saya…”

Suatu ketika teman kuliah saya berkata, “Ngomongin nikah terus sih. Nikah itu menghambat dakwah, tahu?!.” Nikah menghambat dakwah? Yang benar saja, bukankah dengan hadirnya pendamping setia langkah kita semakin ringan? Pekerjaan harian kita semakin mudah karma rumah sudah ada yang mengurus? Sudah ada yang menghantarkan ke majlis ilmu?

“Maksudnya,” jelasnya, “Kalau kita ngomongin nikah terus padahal belum mampu, akan banyak agenda dakwah yang terbengkalai gara-gara ‘nikah’.” Ya, nikah yang hanya diomongkan, didiskusikan tapi minim aplikasi memang bisa menghambat dakwah. Kajian yang akan dihadiri juga oleh akhi atau ukhti A membuat hati kita tak tenang, padahal dia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sebaliknya, aplikasi tanpa ilmu pasti rapuh. Kita sudahi dulu pembahasan tentang hal ini, semoga ada waktu tersendiri untuk membahasnya.   

Saat yang muda yang bicara, sekecil apapun perannya harus dilakoni dengan ikhlas dan sabar. “Kalau tidak dengan pedang, kau bisa berjihad dengan lisan dan penamu.” Apapun perannya, sekecil apapun, asal untuk Islam semuanya berguna.

Teringat saya nasihat seorang Ustad tentang hal ini. “Saat ini,” katanya, “rumah kita sedang terbakar. Sekecil apapun peran untuk memadamkan api dan membangun kembali rumah itu pasti berguna. Yang penting, kita tidak malah menyiramkan bensin dan merobohkan rumah kita sendiri.”

Tak perlu menyesal telah melakoni satu hal. Penyesalan tidak akan membalikkan hari dan kalau toh kita telah menempuh andaian kita belum tentu kita menjadi yang terbaik disana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s