Uncategorized

Khutbah Idul Fitri 1432 H

“Dia bukan anakmu”

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya. Alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah, terang, benar dan berma’na serta selamat di dunia maupun akhirat.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahtera kita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat iman dan islam… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Tak lupa khotib juga mengajak jamaah sekalian untuk mendoakan saudara-saudara kita kaum muslimin, mukminin, muwahhidiin dan mujahidin di berbagai belahan bumi yang sedang didera berbagai kesulitan. Baik karena bencana alam, maupun karena kezaliman fihak musuh-musuh Allah yang memerangi, memboikot, memfitnah hingga memenjarakan mereka. Ya Allah, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi berbagai ujian hidup ini. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah

Marilah kita rehat sejenak untuk menyelami kisah nabi Nuh, As. Nuh dan putranya yang bukan keluarganya. Peristiwa yang merupakan rambu yang jelas dan terang benderang tentang tabiat aqidah Islam. Kisah yang dijadikan peringatan bagi manusia seluruhnya untuk diperhatikan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya kami, tatkala air telah naik sampai ke gunung, kami bawa (nenek moyang) kamu kedalam bahtera, agar kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (Al-Haqah: 11-12).

Setelah 150 hari banjir besar menenggelamkan kaum Nuh hingga mencapai ketinggian 80 mil di atas puncak gunung. “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung”. Allah perintahkan kepada bumi dan langit:

 “Hai bumi telanlah airmu dan hai langit (hujan) berhentilah, dan air disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera pun berlabuh di atas bukit Judiy dan dikatakan, Binasalah orang-orang yang zalim.” (Hud: 44).

Berlabuhlah bahtera Nuh di atas bukit Judiy. Pada saat itu telah tenggelam semua penghuni bumi kecuali hamba-hamba Allah dan makhluknya yang berada di dalam bahtera Nuh.

Sesudah sebulan bahtera itu berlabuh di atas bukit Judiy, barulah para penumpang turun ke darat. Ibnu katsir menerangkan bahwa peristiwa itu terjadi pada hari ke sepuluh bulan muharam.

Wallahua’lam, saat itu bergelimpangan mayat-mayat orang kafir dan salah satunya adalah putra Nabi Nuh A.s. Anak yang secara biologis mirip dengan dirinya. Darahnya mengalir dalam darahnya.  Anak yang telah ditunggu-tunggu kelahirannya dengan penuh kesabaran. Putra yang sangat disayanginya. Anak yang telah dibesarkan dengan kesungguhan dan tetesan keringat.

Dalam kesedihan ia serahkan dirinya kepada Allah. Ia adukan keluh kesah tentang anaknya kepada Rabbnya.

“Nabi Nuh berseru kepada Rabbnya, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkaulah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45).

Allah menjawab keluh kesah nabi Nuh dengan firmannya:

“Hai Nuh, sesungguhnya ia bukan termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan-perbuatannya) yang tidak baik. Sebab itu janganlah memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46).

Sebagai seorang hamba yang shalih, yang hanya tunduk kepada Allah, ia serahkan semua, mohon ampun beliau kepada Allah:

“Ya Rabbi, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.”

Saudaraku,

Kisah nabi Nuh di atas menjadi peringatan bagi kita bahwa seorang anak yang terikat dengan hubungan darah dan merupakan bagian dari kelurga, kelak dihadapan Allah ia bisa menjadi bukan siapa-siapa. Sebab ikatan agama ini (Islam) bukan ikatan darah, nasab, dan bukan ikatan tanah air dan bangsa, bukan ikatan warna kulit, bukan ikatan ras dan suku, juga bukan ikatan profesi dan status sosial. Semua ikatan ini, tanpa terkecuali, kadang terjalin, lalu hubungan antara individu-individunya kadang terputus, seperti yang difirmankan Allah kepada hamba-Nya, Nuh A.S kala ia berseru, “Ya Rabbi, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku”. Allah berfirman kepadanya, “Hai Nuh, sesungguhnya ia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).” Kemudian Allah menjelaskan mengapa putranya menjadi bukan putranya, “Sesungguhnya (perbuatannya perbuatan yang tidak baik. (Ikatan iman telah terputus antara kalin berdua wahai Nuh). “Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tiak mengetahui (hakikatnya). “Engkau mengiranya sebagai anakmu, tetapi prasangkamu ini keliru. Hakikat sebenarnya adalah ia bukan termasuk keluargamu, meskipun ia adalah anakmu dari tulang sulbimu!

Saudaraku,

Orang akan mengatakan kita sebagai orang tua yang tidak tahu diri ketika kita naik mobil bagus sementara anak-anak kita menggoes sepeda bututnya.

Orang akan mengatakan kita sebagai orang tua yang zalim ketika kita makan hidangan lezat dan buah-buahan segar sementara anak-anak kita makan tempe dan sambal terasi

Orang akan mengatakan kita sebagai orang tua yang tidak berbelas kasih ketika kita tidur dikasur empuk sementara anak-anak kita dibiarkan tidur di selembar tikar kasar.

Tapi, lebih tidak tahu diri lagi, lebih zalim lagi manakala kita langkahkan kaki kita ke masjid sementara kita biarkan anak-anak kita asyik dengan internet mereka, dengan HP mereka, dengan gitar dan nyanyian mereka, bahkan nauzubillah kita tinggalkan anak kita dengan pacar mereka, dengan rokok mereka ketika azan berkumandang memanggil setiap manusia untuk shalat.

Naudzubillah, kita mencoba meraih surga, sementara kita biarkan anak-anak kita dalam pekat maksiat.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Setiap pagi yang masih gelap, Rasulullah selalu berjalan di depan rumah Ali bin Abi Thalib. Ia ketuk pintu rumahnya setiap kali hendak mendirikan shalat subuh. “Shalat, shalat, wahai keluargaku, sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa-dosa kalian dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”   

Ali dengan kualitas keimanannya yang luar biasa. Seorang pemuda generasi awal yang mengimani kenabian Muhammad saw. Seorang yang rela tidur diranjang Rasulullah saat peristiwa Hijrah sementara orang-orang kafir mengelilingi rumah dengan menghunuskan pedang. Dan, ia adalah satu dari sepuluh orang yang telah dijanjikan surga (al-Asrah al mubassaruna bil jannah). Rasulullah tetap mengetuk pintu rumahnya, tetap mengajaknya untuk shalat berjamaah.

Lantas bagaimana dengan kita? Dengan anak-anak kita yang bukan siapa-siapa. Yang tidak tahu dimana kelak posisinya di kehidupan yang kedua, surga atau neraka.

Demikian juga yang dilakukan oleh shahabat Abu Bakar as-sidik. ia lewati rumah putranya, Abdullah, ketika hendak pergi kemasjid. Di dengarnya sang putra masih bercengkrama dengan sang istri yang baru dinikahi. Tak tega ia mengganggu pasangan baru itu. Dengan permakluman, ia tinggalkan sang putra dengan harapan sang putra akan segera menyusulnya ke masjid. Ia tunggu putranya di masjid, sampai ketika iqamah telah dikumandangkan, tetap sosok yang ditunggunya tak kunjung tampak. Berulang kejadian serupa, hingga ayah yang shalih ini terpaksa memerintahkan sang putra untuk menceraikan istrinya.

Abu bakar, seorang ayah yang saleh, memerintahkan sang anak untuk menceraikan istrinya di saat sang anak sedang berbulan madu “hanya” karna ia lewatkan shalat berjamaah di masjid.

Saudaraku yang berbahagia,

Mungkin kita pernah melarang anak kita untuk mengkaji agama karena khawatir aliran sesat, tapi tak pernah kita melarang anak kita berpacaran tanpa pernah khawatir anak kita tersesat. Sering kita ajari anak kita bernyanyi tapi jarang sekali kita tuntun mereka untuk mengaji. Sering kita menegur anak kita ketika mereka terlambat sekolah tapi jarang sekali kita tegur anak kita lantaran telat shalat jamaah. Atau malahan kita sendiri belum terbiasa shalat jamaah di masjid. Kita masih senang membangun masjid dari sisi fisik, tapi tidak dari sisi personal. Banyak Masjid dan mushala dibangun dengan mewah, tapi minim aktivitas ibadah. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini menjadi titik tolak kita untuk menjadi orang yang hatinya bergantung dimasjid.

Saudaraku,

Muhammad saw yang seorang Rasul tetap membangunkan Ali dan Fatimah, menantu dan putrinya, meskipun mereka telah dewasa untuk shalat bejamaah. Abu Bakar yang seorang khalifah bahkan menyuruh cerai putranya lantaran tidak shalat jamaah. Sebab mereka ingin hubungan ayah-anak itu kekal hingga di akhirat kelak.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan anak-anak kita generasi yang shalih. Generasi yang memiliki pemahaman agama yang baik dengan pemahaman aqidah yang benar. Generasi yang karakternya digambarkan oleh Allah dalam surat Al-Maidah ayat 54:

“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum; Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, bersikap lembut kepada orang-orang beriman dan keras kepada orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.”

Mereka bertawadu terhadap sesama muslim, tegak dan keras terhadap lawan dari kaum kafir. Tidak justru menjadi pembela orang-orang kafir dan memata-matai orang muslim yang teguh dengan agamanya. Mereka (generasi itu) selalu berjuang fisabilillah untuk menegakkan kalimat Allah, agama Allah, tidak dapat dihalangi apa pun, bahkan tidak menghiraukan celaan orang yang akan mencela. Tidak ada yang dapat menghalangi mereka untuk melakukan ketaatan, menegakkan hukum Islam, dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.  

Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang dikaruniai keturunan dengan karakter tersebut. Sehingga kelak mereka bisa menjadi penerus estafet perjuangan Islam. Dan, kita tak menjadi penyumbang saham pada apa yang difirmankan Allah:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (Maryam: 59).

Apabila mereka menyia-nyiakan shalat, tentu mereka akan lebih menyia-nyiakan kewajiban yang lain. Sebab, shalat merupakan tiang dan pilar agama serta merupakan amal hamba yang terbaik. Ibnu Jarir berpendapat bahwa menyia-nyiakan shalat berarti meninggalkannya secara total. Sedangkan menurut Ibnu Mas’ud, Masyruk, Umar bin Abdul Aziz, yang dimaksud menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya, tetapi menyia-nyiakan waktu pelaksanaanya.

Sedang firman-Nya { الشَّهَوَاتِ وَاتَّبَعُوا } kata Abu Sulaiman Al-Dimasyqi adalah memperturutkan hawa nafsunya, misalnya mendengarkan nyanyian, minum minuman keras, zina, main-main –al-lahwu—dan semacamnya yang menghalangi kita dari menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kita berdoa kepada Allah, mudah-mudahan kita tidak meninggalkan penerus yang buruk dan kelak kita dan anak-anak kita dipersatukan oleh Allah di dalam janahnya. Keluarga kita tetap disatukan dalam ikatan iman yang kokoh. Dan, di dunia inilah kesempatan itu ada. Kesempatan untuk saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Sebab dihari akhir kelak semua urusan akan dikembalikan kepada masing-masing individu. Sendiri kita mati, sendiri kita dibangkitkan, dan sendiri kita akan dihisab.

Wallahu a’lam bisshawab

Doa

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ

فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS 59:10)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS 3:8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا

حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا

وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا

بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)

اللهم إني أعوذبك بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” (HR Muslim)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s