Uncategorized

Formula Khusus Jadikan Buku Best Seller ala Dee Supernova

Image

Bagi insan perbukuan kata best seller merupakan “tujuan hidup.” Semua buku yang diterbitkan harapannya bisa laris manis di pasar. Untuk mengenal lebih jauh tentang bagaimana naskah bisa best seller, Dee sang penulis novel best seller Supernova berbagi melalui surat elektroniknya kepada Kompas.com.

Apa itu best seller?

“Saya rasa itu adalah gabungan kompleks antara timing, tema, pemasaran, selera masyarakat, dan masih banyak lagi faktor lain, yang jika dirangkum dengan satu kata mungkin menjadi: keberuntungan,” tandasnya kepada Kompas.

Menurutnya banyak buku dipromosikan habis-habisan, tetapi sambutannya biasa-biasa saja. Sebaliknya, banyak juga buku yang tahu-tahu mencuat padahal ditulis oleh penulis baru, dan tidak menggunakan biaya promosi yang besar. Dee mengaku tidak tahu persis mengapa buku-bukunya menjadi best seller. Hanya saja, sebagai penulis yang telah 11 tahun malang melintang di dunia penulisan ia merasa telah memiliki pembaca loyal yang siap membeli bukunya.

Bagi Dee, ketika hendak menulis atau menerbitkan buku, yang terpenting adalah membuat buku yang mampu menstimulasi dirinya sendiri. “Prinsip saya sederhana, yakni menulis buku yang ingin saya baca. Jika ternyata banyak orang lain yang baca, barangkali mereka punya kesamaan minat dengan saya, hingga akhirnya mereka bisa relate dengan karya saya, yang artinya mereka tertarik pada substansinya,” jelasnya.

“Diksi dan kemampuan mengolah bahasa juga menjadi hal penting. Ide besar dan cemerlang, tetapi ketika dibungkus dengan bahasa yang tumpul atau berantakan, tentu tidak jadi menarik lagi. Jadi, kedua hal itu sama pentingnya,” papar Dee, yang setiap proses menulis, dengan bergantung kebutuhan cerita, selalu dilakukan riset dengan berbagai metode.

Dee mengatakan, metodenya mulai dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain yang kemudian diwawancara, dilakukan riset pustaka, riset internet, dan sebagainya. “Saya merasa harus mengenal dengan baik apa yang saya tulis, karakter yang saya ciptakan, dan lingkungan mereka. Dengan demikian, barulah pembaca pun bisa teryakinkan. Jadi, unsur believability juga penting,” lanjutnya.

sumber: http://oase.kompas.com/read/2012/06/29/11380452

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s