Uncategorized

Lampu Merah

Ketika berangkat dan pulang kerja, saya harus melewati setidaknya 6 traffic light. Ketika mengalami sekali lampu merah, besar kemungkinan di lokasi lain akan menemui lampu merah lagi, percaya gak percaya. Pada jam-jam sibuk, tak jarang dalam satu lokasi mengalami lampu merah dua kali. Berhenti saat lampu merah kemudian lampu menyala hijau dan kita belum bisa jalan sehingga mengalami lampu merah kedua. Awalnya agak gondok juga tapi setelah dijalani berhari-hari bahkan berbulan-bulan jadi biasa dan asyik. Saya sering menjadikan momen ini justru untuk istirahat dan melihat-lihat suasana. Ikut merasakan nyinyirnya kehidupan anak-anak kecil lusuh yang menengadahkan tangan atau menyaksikan bapak-bapak yang tergopoh menyebrangi jalan raya. Setelah lama merasakan lampu merah ada banyak pelajaran berharga yang bisa saya ambil. Di antaranya bagaimana kita menghargai waktu.

Berapa lama paling lama anda berhenti di lampu merah? Kebetulan saya tinggal di daerah Solo dan setahu saya di sini paling lama 100 detik bahkan kurang. Apa yang anda rasakan selama itu? Kesal, grutu, ingin segera hijau. Setahu saya tidak ada yang santai ketika berhenti di lampu merah. Waktu yang hanya beberapa detik itu terasa sangat lama. Apalagi bila berangkat telat atau ada janjian padahal waktu sudah mepet wah bisa tumbuh tanduk di kepala.

Coba bandingkan dengan waktu kita di kantor, bagai yang sudah kerja, dan di kampus, bagi yang masih kuliah juga begitu. Waktu berjam-jam cuma dipake buat FBan atau searching yang enggak-enggak. Belum lagi ngrumpi dengan teman sekerja atau trima telpon. Untuk sebuah prioritas terkadang kita lebih memilih menunda. Dedline sekalipun sering kali di langgar sambil cari-cari alasan atau kambing hitam. Ah baru jam 10 atau ah masih lama jam 4 sorenya. Ketika sudah satu bulan masih simpet bilang, “ah masih awal bulan.” Dan seterusnya. Beda dengan di lampu merah itu. Prioritas untuk segera sampai rumah atau sampai tempat tujuan menjadi focus yang seolah tak boleh terhambat meski hanya beberapa detik. Inilah yang mestinya kita miliki sebagai seorang professional. Ketika kita telah menancapkan tujuan mestinya focus. Lebih baik semuanya selesai di awal daripada nunggu buru-buru di belakang.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s