Uncategorized

Ginjal

Pagi itu jarum jam menunjuk angka 8. Seorang anak kecil berdiri mematung di depan pintu warnet yang belum terbuka. Aku menyaksikannya sambil memarkir  MX ku di halaman warnet. Setiap pagi memang saya hadir pada jam 8 untuk membuka warnet itu. Setelah pintu depan terbuka, anak kecil itu menghampiriku.

“Dah buka mas?” ia bertanya pelan.

“Belum itu dik, nanti sekitar jam 9,” jawabku.

“Saya nunggu di depan ya mas,” izinnya. Aku hanya mengangguk.

Aku meneruskan pekerjaanku membereskan barang-barang untuk persiapan warnet buka. Jam 9.00 tepat anak itu menghampiriku lagi.

“Dah buka mas?” tanyanya lagi.

“Ya, sudah. Monggo,” kataku sambil mempersilahkannya memilih kursi.

“Main sepuluh ribu ya mas,” kata anak kecil itu.

Hari ini hari ketiga anak itu datang kewarnetku. Pesannya masih sama, sepuluh ribu. Hanya hari kedua kemarin ia bermain dua kali pertama Rp 7.000 kemudian main lagi Rp 10.000. Di hari ketiga ini aku mulai penasaran. anak sekecil itu sudah menunggu didepan warnetku sejak pukul delapan, padahal ini hari rabu. Artinya ini bukan hari libur. Akhirnya kumantapkan hati tuk bertanya.

“Dik, kok pagi-pagi dah di sini?” tanya saya penasaran.

“Iya, mas. Ibu saya kena (sakit) ginjal,” jawabnya. Oh ya warnetku memang berlokasi didepan rumah sakit Umum di kota Solo.

“Lha sekarang yang nunggu siapa?” tanya saya lagi.

“Dah ada temennya kok mas. Disebelahnya kan ada yang punya penyakit sama.”

Ternyata ia menunggu ibunya yang sakit dan dia tinggalkan ibunya sendirian. Eh maaf, bukan sendirian, tapi bersama pasien lain.

“Kok malah ditinggal kesini?”

“Gak papa kok mas, sama ibu juga boleh.”

“Rumahmu dimana?”

“Di Gading.”

“Kamu gak sekolah?”

“Meliburkan diri mas, kan jaga ibu.”

“Lha saudaramu?”

“Bapakku dah gak ada. Saya juga gak punya saudara.”

“Ibumu kerja apa?”

“Cuma pembantu rumah tangga kok mas.”

Ups. Anak sekecil itu menunggui ibunya yang terbaring lemah dirumah sakit tanpa orang lain. Awalnya saya ingin menyalahkannya karena meninggalkan sang ibu sendirian. Tapi, ketika melihat anak sekecil itu, sedikit aku bisa memahami perasaan sang ibu. Mungkin ibu itulah yang justru menyuruh anaknya bermain. Pergi menjauh dari penyakitnya. Memberinya sangu yang cukup untuk merasakan kebahagiaan sebagaimana anak sebayanya yang lain.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s