Uncategorized

Tamu Tak Diundang

Seorang lelaki berbadan tinggi tegap berdiri di depan rumah seorang warga. Pintu pun diketuk dan tuan rumah pun membukakan pintu rumah tersebut. Dengan sopan si tamu yang tak diundang itu mengutarakan maksud dan tujuannya, yang tidak lain dan tidak bukan, numpang kebelakang. Ia terlihat membawa barang yang cukup banyak dan berjanji akan membaginya bila diizinkan masuk. Ia pun masuk membawa serta barang bawaannya. Karena melihat si tamu yang terlihat lelah, tuan rumah yang ramah menawarkan ruangan untuk istirahat. Setelah segar, si tamu pun pamitan. Sebelum pulang, si tamu mendekati tuan rumah, “maaf, beribu kali maaf, trimakasih atas kebaikan Anda. Tapi saya harus menembak Anda.” Tuan rumah pun kaget tapi tak bisa berbuat banyak karena darah telah mengalir dari tubuhnya dan segera tak sadarkan diri, mati. Keesokan harinya, koran-koran mengangkat berita itu begini, “Seorang teroris tewas tertembus peluru panas. Polisi menemukan sebuah senjata laras panjang di kamar mandi rumah tersebut. Di salah satu kamar rumah tersebut juga ditemukan pistol, kompas, radio, peta, pisau, dan barang-barang militer lainnya.” Setelah berita tersebar, putra si tuan rumah masih tetap tersenyum karena merasa bangga telah membantu negara dengan tertangkapnya teroris. Ia bangga meskipun yang dituduh teroris adalah ayahnya sendiri.

Bagaimana pendapat Anda tentang kisah tersebut. Bagaimana menurut Anda tentang sikap si anak yang bersikap demikian? Bagaimana bila Anda adalah tetangga terdekat dari si korban. Anda tahu betul bagaimana kehidupan sehari-hari tuan rumah yang akhirnya menjadi korban itu. Atau bahkan mungkin tuan rumah itu adalah Anda, pembaca?

Demikianlah kira-kira kasus yang terjadi di Pakistan bila digambarkan secara sederhana. Amerika datang sebagai tamu di negeri tersebut. Si tuan rumah pun dengan lugunya menerima kehadiran tamu yang menawarkan banyak hal. Setelah diberi ruang (Kedubes), Amerika menjadikannya sebagai gudang senjata. Petugas kepolisian Islamabad pada hari Sabtu mencegat kendaraan Shezore yang mencurigakan di pos pengawasan Zero Point.

Selama pemeriksaan, terungkaplah bahwa dua orang yang mengendarai mobil itu, Noushad dan Lal Badshah, membawa barang-barang kargo yang terdiri dari 35 peti M-16, 13 peti senapan 9 mm, beberapa kantong pistol, kompas, radio, peta, pisau, dan barang-barang militer lainnya. Semua senjata itu bukan untuk membunuh siapa-siapa, melainkan warga Pakistan sendiri.

Memang selama ini Washington mengklaim target penyerangannya adalah ‘militan’. Namun, siapa pun akan mengetahui bahwa selama ini serangan keji AS itu menyebabkan kematian warga sipil. Sejak bulan Agustus 2008, serangan pesawat tanpa awak telah menewaskan hampir seribu warga wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Jatuhnya korban sipil ini pun menjadi sebab menegangnya hubungan antara Islamabad dan Washington. Pemerintah Pakistan berulang kali menyuarakan keberatan terhadap serangan, meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya pemerintah Pakistan mengetahui dan memberikan izin pada tuannya (AS) untuk beraksi dan membantai rakyatnya sendiri di Pakistan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s