Uncategorized

KETIKA “MANUSIA” DISERANG PASUKAN KERA

Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) itulah nama misi kemanusiaan yang diikuti oleh sekitar 750 orang dari 50 negara. Tujuan misi ini adalah memberi bantuan kepada penduduk Gaza yang mengalami blokade oleh Israel dan Mesir selama tiga tahun belakangan ini. Bantuan seberat 10 ribu ton yang dibawa oleh 6 kapal Freedom Flotilla itu termasuk bahan bangunan, ratusan kursi roda listrik, dan alat-alat penjernih air.

Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kapal yang berpenumpang sejumlah tokoh seperti pemenang Nobel, beberapa anggota DPR dari Irlandia dan Jerman, dua pensiunan diplomat AS, veteran kolonel Angkatan Laut AS, jurnalis, aktivis, penulis, dan pebisnis itu harus berhadapan dengan peluru-peluru panas bangsa kera, Israel.

Israel mengklaim bahwa pasukan mereka ditembaki saat mencegat konvoi enam kapal tersebut sampai empat tentara Israel terluka. Hal inilah yang membuat mereka harus menyerang.

Statemen militer Israel yang dilansir oleh kantor berita Reuters (31/5/2010) mengungkapkan, “Para pejuang Angkatan Laut mengambil alih enam kapal yang mencoba melanggar blokade laut (di Jalur Gaza).” “Selama pengambilalihan itu, tentara-tentara menghadapi kekerasan fisik serius oleh para aktivis yang menyerang mereka dengan peluru asli,” demikian pernyataan militer Israel.

Ya, ya, ya, bisa dimaklumi. Mereka menyerang karena terpaksa. Jangan mencela apalagi mengutuk. Mereka membela diri kok. Kenapa banyak orang yang marah? Mereka melawan, sehingga wajarkan kalau diperangi? Wajarkan kalau ditembaki? Mengapa juga kita ikut berbela sungkawa dan merasa menyesal atas kejadian ini? Apa karena mereka aktivis kemanusiaan sehingga layak diberi bela sungkawa?

Ah, dari perairan Ciprus atau dekat pintu masuk Gaza saya pulang ke negeri tercinta. Negeri impian, kata pak Pramudya, ketika semua orang sama derajatnya di depan hukum. Beberapa waktu lalu di negeri saya ada orang-orang yang ditembaki.

Alasannya hampir sama, “terpaksa” karena mereka melakukan perlawanan. Tapi ada beberapa hal yang berbeda. Pertama, tidak ada orang yang mengutuk sang penembak. Mungkin karena yang ditembak bukan aktivis kemanusiaan. Kedua, orang-orang tidak tahu siapa yang ditembak. Mungkin karena mereka bukan peraih nobel, bukan anggota DPR, dan bukan jurnalis. Bahkan para penembak ternyata tidak tahu sebenarnya mereka siapa. Dengan begitu, orang-orang harus percaya bahwa mereka layak dibunuh. Mereka benar-benar melakukan perlawanan.

Sore menjelang petang, saya bertanya-tanya. Apakah mereka yang menembaki dengan helikopter itu pernah berkunjung dan belajar di negara saya ya? Sehingga mereka pintar membuat alasan yang sama. Atau mereka teman kecil yang pernah bermain bersama. Atau mereka pernah satu sekolah dengan guru yang sama. Atau ….. masih banyak atau yang lain yang mengambang di otak saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s