Uncategorized

Mengembara di “Bumi Cinta”

Saya baru saja selesai membaca Bumi Cintanya kang Abik. Agak telat mungkin karena novel yang saya baca sudah cetakan kedua. Terus terang saya termasuk satu dari sekian juta penggemar penulis Indonesia yang bersinar dengan Ayat-Ayat Cintanya ini.

Melihat karyanya, saya teringat kembali dengan HAMKA. Sosok da’i yang menyapa mad’unya tidak hanya lewat kata tapi juga lewat sastra. Mencari orang seperti ini agak sulit. Lebih sulit dari dai yang menulis buku “teks” agama, meskipun tidak mudah juga menemukan sosok yang “ya dai, ya penulis.”

Di Bumi Cinta ada banyak pelajaran berharga yang bisa saya ambil selaku seorang muslim. Sebab, di Bumi Cinta nasihat bisa tumbuh subur. Namun, selaku pembaca sastra murni saya agak kecewa. Pasalnya, novel terbaru kang Abik ini terkesan berat. Banyak pelajaran yang disampaikan secara blokosuto, seperti ketika membaca buku pelajaran atau materi seminar. Gaya bernasihat kang abik yang biasanya disampaikan secara integral dengan sang tokoh utama, beralih menjadi artikel-artikel panjang.

Ada beberapa bagian yang saya lompati ketika membaca novel ini karena saya anggap bertele-tele. Untungnya, (atau sayangnya, saya tidak tahu) cerita itu tetap nyambung meski yang saya lompati hampir tiga lembar. Ini membuktikan bahwa ada beberapa bagian yang menurut saya bisa diringkas. Selain itu, kang Abik juga agak lambat ketika memutuskan untuk menjelaskan tentang hukum bersalaman dalam Islam. Padahal, menurut saya hal itu justru tidak berat untuk dikatakan secara terbuka.

Ada satu hal yang masih khas di semua novel kang Abik, yaitu super hero. Tokoh utama adalah manusia super, di bumi cinta bahkan terkesan seperti malaikat. Tidak ada kesan bahwa ia seorang manusia biasa yang bisa saja tertarik dengan lawan jenis. Justru beberapa kali peristiwa ketertarikan dengan lawan jenis dimunculkan pada saat yang kurang tepat (sekali lagi ini masih menurut saya).

Sampai terakhir membaca, saya tidak menemukan sesuatu yang menegangkan (tanpa konflik). Jebakan kaum Zionis diselesaikan dengan datar-datar saja, tanpa konflik yang nyata. Meskipun begitu, kang Abik sukses mendeskripsikan Rusia. Pembaca diajak menelusuri jalan-jalan kecil di sana. Bagaimanapun, berjalan-jalan di Bumi Cinta bersama kang Abik masih cukup menarik untuk dilakukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s