Uncategorized

fenomena nabi palsu

Bulan Februari lalu agaknya menjadi bulan yang sangat subur untuk tumbuhnya nabi-nabi palsu di Indonesia. Warga Sumenep, Madura digemparkan dengan pengakuan seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai nabi. Wanita bernama Samawiyah (30) ini tinggal di desa Angon Angon, Arjasa, Pulau Kangean.  (detiksurabaya.com:22/2/2010). Samawiyah yang mengaku sebagai nabi mengganti namanya menjadi Siti Hajar. Menurutnya, nama itu langsung di dapatkan dari Allah melalui wangsit. Uniknya, wangsit itu didapat dengan cara kesurupan saat mengisi pengajian di rumahnya. Beruntunglah wanita ini diberitakan telah bertobat.

Beberapa hari sebelumnya (05/02/2010), portal berita yang sama menurunkan berita datangnya nabi palsu di Bandung yang bernama Ahmad Sayuti. Ia mengaku bahwa Al-Qur’an turun pada tahun 1993 saat dirinya mendapat wahyu. Ini untuk kedua kalinya Bandung kedatangan nabi palsu. Pada tahun 2007 Bandung digegerkan dengan Ahmad Mosadeq yang mengaku nabi dengan sebutan Al-Masih Al-Maw’ud.

Pada tanggal 02/02/2010, Voa-Islam.com menurunkan berita yang hampir sama. Syamsuddin, lelaki asal Polewali Mandar, lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar tahun 2008, mengaku sebagai nabi Khidir. Pimpinan aliran Puang Malea ini mengajarkan kitab suci baru yang menurutnya merupakan gabungan dan rangkuman dari Zabur, Turat, Injil, Suhuf, dan Al-Qur’an. Bagi UIN (IAIN) secara umum, ini merupakan kasus kedua lulusannya menjadi nabi palsu. Sebelumnya, Abdul Rahman, jebolan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997 mengaku sebagai reinkarnasi (jelmaan kembali) Nabi Muhammad Saw dalam aliran Lia Eden.

Bermunculannya orang-orang yang mengaku sebagai nabi palsu sudah ada sejak dulu. Ketika Nabi Saw masih hidup saja sudah ada orang yang berani mengaku-ngaku sebagai nabi. Mereka adalah Aswad Al-Ansi dan Musailamah Al-Kadzdzab.

Nabi-nabi palsu itu tentu tidak diakui dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa tidak ada nabi lagi sepeninggal Nabi Muhammad Saw:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).

Rasulullah juga pernah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti Harun as bagi Musa as? Akan tetapi bahwasanya tak ada lagi nabi sepeninggalku.” (HR Bukhari).

Jadi, jelaslah bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi setelahnya. Kalau ada yang mengaku rasul, kita tak perlu ragu untuk mengingkarinya. Orang yang telah mengaku nabi harus segera bertobat dan membaca syahadat kembali sebelum mati, sebab mereka telah mengatakan kalimat kekufuran. Begitu juga para pengikut dan yang membenarkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s