Uncategorized

Quovadis Partai Islam

Saya tertarik menulis tentang hal ini begitu membaca satu berita di inilah.com yang berjudul, ‘Duet SBY-Hidayat Mustahil Terbentuk’, yang ditulis oleh Raden Trimutia Hatta. Ada satu hal yang menarik yang menurut saya bisa membuka cakrawala pembaca (muslim khusunya), yaitu masihkah berharap pada Demokrasi.

Dalam tulisan tersebut terang sekali bagaimana sebuah koalisi bisa terbentuk. Tentu saja semua orang telah mafhum bahwa koalisi berdiri atas dasar kepentingan (menang-kalah), bukan benar-salah. Ada yang menarik dari ujaran peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) , Burhanudin Muhtadi kepada inilah.com dalam berita tersebut.

“Yang perlu dikritisi, SBY jangan terlalu gegabah dalam memutuskan untuk segera berkoalisi dengan PKS meski PKS tampaknya sudah bulat mendukung SBY,” katanya.

Ada apakah dibalik pernyataan ini?

Burhanudin berkomentar lagi, “”Kalau hanya sekadar power sharing parpol akan dapat berapa menteri di kabinet tak ada masalah. Tapi yang bahaya jika kelompok Islam itu nantinya menuntut terlalu banyak untuk agenda negara yang pro-Islam,” pungkasnya.

Inilah politik. Masyarakat muslim (termasuk juga PKS yang pada awal berdirinya begitu kuat menghasung penegakan syariat) harusnya mulai sadar bahwa berharap pada demokrasi sebagaimana berharap pada setan gundul. Belum lagi menang (baru ngomong-ngomong tentang koalisi) sudah tercetus pernyataan seorang peneliti, yang kalau dilihat dari namanya ia seorang muslim, bahwa umat Islam akan menuntut terlalu banyak untuk berdirinya negara yang pro Islam. Satu kekhawatiran yang cukup mendasar menurut saya.

Ketika bertanya kepada pemilih partai Islam (dalam hal ini lebih spesifik PKS) sebagian besar mereka berharap berdirinya negara atas dasar syariah. Warning yang diberikan Burhan kepada PD merupakan bukti bahwa cengkraman tangan setan yang menghendaki negara sekular di Indonesia masih sangat kuat. Belum apa-apa kita sudah diingatkan agar berhati-hati dengan partai Islam. Tampaknya, akan sangat sulit menerapkan syariat lewat jalur ini (parlemen).

PKS mungkin memang telah meniru (sengaja tidak saya gunakan kata: tidak mengambil pelajaran dari) beberapa pendahulunya di beberapa negara lain seperti Turki dan Palestina. Indonesi menjadi lahan trial and error selanjutnya untuk melakukan fungsi penegakan syariat melalui parlemen.

Dari pernyataan penghusung demokrasi di atas, bagi setiap orang yang menghendai berdirinya negara Islam seharusnya paham bahwa hal itu sangat sulit bila disandarkan pada sebuah partai meskipun membawa label  partai Islam, partai dakwah, atau partai apalah. Saya tidak bermaksud melakukan Black  Campaign terhadap satu partai tertentu di sini. Tetapi saya merasa terpanggil untuk menulis dan mengingatkan masyarakat (masyarakat muslim khususnya) bahwa ada satu jalan yang ditempuh oleh para salaf ketika mendirikan negara Islam; Jihad.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s