Uncategorized

ANTARA AKU DAN KAU

Ruang kerja, 29 februari 2008.
Ketika aku menunjuk pada mu, aku juga tertunjuk. Bagaimana tidak, kau terdiri dari suku kata yang sama dengan partisi aku dibuat. Itu adalah urutan abjad yang tak lain dan tak bukan adalah A K U atau K A U tak ada pengurangan atau penambahan. Pas!
Ini kali kedua aku bersalah. Dulu, satu ayat Al-Qur’an yang seharusnya mengazab ditulis mengajak. Gila! Itukan kalimat sakral dari yang Maha Hidup. Entah harus berapakali aku beristighfar sampai Allah sudi mengampuni hamba-Nya yang super duper guoblok di hadapan-Nya. Sekarang hadits. Satu prasa yang membuat kepalaku beku, kaku, dan seakan-akan mati rasa. Yang ada dikepalaku saat ini cuma sekeping daging atau apalah yang intinya sebongkah karang.
Tolong jangan tanya salah siapa. Ketika kukatakan KAU bukankah itu juga berarti AKU?
Ya Rabbi…. Tolonglah hambamu…
Ada satu hal yang membuatku salut pada sang HRD. Sosok ganteng necis yang selalu bisa mengatur diri. Entah berapa kali beliau ‘dipukuli’ tapi dia tetap tenang. Nada datar dengan senyuman seperti ibu menghibur anaknya, ‘tenanglah nak Allah itu Maha Pengampun.’ Seluas apa rongga hatinya aku tidak pernah tahu, tapi aku yakin itu sangat luas.
Okelah aku harus kembali kerja, menggagas rinai amanah yang sewaktu-waktu bisa dicabut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s