Uncategorized

RUANG REDAKSI

Pria itu sesekali tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih. Dia masih muda energik sesuai dengan badannya yang gempal. Sifat pendiamnya bisa menjadi cermin, dia dibesarkan dari lingkungan pondok pesantren yang kental. Gelar LC yang mengiringi namanya yang panjang bukan sebuah hasil tanpa usaha. Gelar itu merupakan torehan makna sebuah catatan panjang hidup yang entah kapan akan berakhir. Dari SMP dia sudah di pondok. SMA dan kuliah di Universitas milik pemerintah Saudi.
Akhir-akhir ini wajah yang selalu berhias senyum itu seringkali murung. Tampak gurat penantian panjang yang ingin segera di akhirinya. Usianya terus merambat dan belum ada seorang bidadari yang menemani setiap pengembaraan hidupnya di dunia. Mungkinkah ia lelah?
Dua hari yang lalu ia tampak sumringah. Seperti ada serpihan cinta yang bertabur di hatinya. Seperti anak lelaki kecil yang menemukan pecahan gelas kaca di tanah yang dikeruknya hingga kuku-kukunya menghitam.
”Dia… dia yang selama ini saya cari..,” pekik hatinya.
“Dia dokterkan?” tanyaku.
”Apa iya… kok tahu?” balasnya.
”Aku pernah diperiksanya dulu waktu sakit” jawabku nyengenges.
”Dia sudah nikah…tapi… mungkin saja berbeda.” Aku tak ingin lelaki baik itu patah arang.
“Bagaimana pakaiannya?” tanyaku memancing.
”jilbabnya panjang tapi bajunya berbunga,” katanya.
Oh Allah mudah-mudahan bukan dia. Dokter yang pernah memeriksaku dulu. Ketika kusebut cirinya, semua nyaris sama. Wajah bulatnya, tubuh tinggi semampainya, putih wajahnya. Ah tapi pakaian itu masih menyisakan harap untuk teman baikku.
Hari semakin tua. Jum’at, seorang rekan datang membawa berita.
“ada berita bung,” kata-katanya nyaring di ruang redaksi yang tertutup —tapi tidak untuk hati sahabatku.
Wajahnya membuka perasaan hatinya.
“sudah menikah?” tanyanya. (dia masih tersenyum). Mungkin dia merasa. Diseretnya temanku ke ruang tamu. Aku tak lagi tahu apa yang di bicarakan, tapi hatiku tau.
Hatiku menebak. Diruang tamu, temanku duduk bersebelahan dengan rekan tadi dengan masih tetap tersenyum. Dan, rekan tadi mengangkat sebelah kakinya ke atas meja dan merangkulkan tanganya ke sandaran kursi.
“iya bung, dia sudah menikah,” kira-kira begitu jawabannya.
Ah sobat, maaf, itu Cuma firasatku. Aku berharap itu salah.
Sore menyisakan mendung yang menggumpal di awan. Hitam. Matahari hampir tanggelam sempurna. Atau mungkin karena tertelan mendung. “dia sudah menikah,” katanya padaku. Astaghfirullah, aku membatin. Benar dugaanku.
Baru kemarin senyumnya merekah karena mendapat pecahan gelas kaca yang bening berkilauan. Sekarang wajahnya kembali memburam.
“Sebenernya aku ini ga banyak omong. Cenderung pendiam” katanya tiba-tiba. Aku tersadar. Oh ternyata ada diskusi hebat di aula hatinya. “maksudnya,” kataku.
Aku baru saja melemparkan kekecewaan pada PKS ke wajahnya. “Mengapa sekarang PKS begitu ya?”—kita baru membaca berita detik.com yang memberitakan tak ada lagi pekik Allahu akbar di Musyker PKS yang ada hanya tepuk tangan dan pekik merdeka. Ditambah ungkapan salah satu pembesarnya, “kita menghargai pluralisme,” naudzubillah.
Tiba-tiba pernyataan itu muncul, makanya kata-kata maksudnya itu meluncur dari mulutku. Pernyataan itu hampir sama dengan yang terlontar kemarin. Kata-kata yang melompat diatas dudukan motor dalam perjalanan shalat jum’at.
“Dia mau nrima engga ya.” Tolong jangan bilang ini nada pesimis. Karena penyakit itu hampir menjangkiti semua pemuda yang belum menikah di usia yang tak lagi bau kencur. Rabbi… mudahkanlah urusan kami. Allahumma sahhilna fi kulli umurina. Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina kurataa’yun wa jaalna lil muttaqina imama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s