Backpaker Domestik

Posted: Januari 25, 2012 in Uncategorized

Tanggal merah Imlek yang jatuh hari senin tampaknya cukup menggembirakan bagi para karyawan termasuk saya. Libur dua hari minggu senin kali ini pun saya sempatkan untuk jalan-jalan bareng teman-teman. Setelah penat kerja dan urusan rumah ceritanya kami ingin backpaker domestik ke salah satu kota di jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Ya, kota Ngawi. Kota kecil dengan menu khas pecel (disetiap warung makan pasti menunya pecel) sampai seorang berseloroh, “kayaknya satu kabupaten makan siangnya sama semua nih. semua pake pecel.” Makan pecel dan teh anget gak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga satu porsi pecel hanya Rp 3.000 plus teh hangat Rp 1.000. Ini sudah porsi besar. Ada juga makanan khas lain yaitu soto. Sotonya agak berbeda dengan soto solo. Soto di sini lebih mirip seperti kare ayam. Kuahnya kental. Harga soto disini lagi-lagi sangat murah hanya Rp 5.000. Ini untuk soto ayam kampung. Kalo ayam broiler mungkin hanya sekitar Rp 3.000 juga.

Karena berniat jalan-jalan, kami sengaja betul-betul berjalan kaki menyusuri kota ngawi. Mulai dari terminal sampai alun-alun yang jaraknya kurang lebih 5km. Agak tidak nyaman juga berjalan kaki di sini karena Ngawi memang kota sejuta bentor (becak yang dimodifikasi dengan mesin disel). Disepanjang jalan kami selalu ditawari untuk naik bentor. “Murah mas yo Rp 4.000 gak papa,” teriak mereka kepada kami yang berjalan bertiga.

Karena kesal ditawari dan penasaran mengapa disini bankyak sekali bentor akhirnya kami ajak mereka ngobrol (sekalian istirahat). Setelah bertanya-tanya dengan para supir bentor ternyata untuk memiliki bentor di sini tidak sulit (pantas saja disepanjang jalan menjadi tempat mangkal bentor). cicilan bentor ke Bank hanya Rp 5.000 perhari. sedang harga bentor sekitar Rp 3 juta sampai Rp 3.5 juta. bentor termasuk sarana transportasi yang irit bahan bakar. “sehari paling ngisi satu liter. itu dah bisa buat kliling-kliling,” kata para tukang bentor.

Sudah puas tanya-tanya kami pamitan pergi melanjutkan jalan kaki. Ketika melewati sebuah warung pakaian di depan pasar, segerombolan cewe bersiul kepada kami. Kami pun cuma cengar cengir aja. Tapi jiwa detektif  kami jadi berfungsi kembali, kenapa ya mereka nyuiti (jawa-red) kami. Ketika nongkrong di alun-alun kami baru tahu bahwa Ngawi memang krisis Cowok ganteng. setiap pasangan pacaran yang kami temui selalu seorang wanita cantik dan pemuda (maaf) kurang tampan. Kami bertiga sepakat cewe ngawi memang bersih-bersih dan cantik-cantik. haha

Membahagiakan orang tua

Posted: Januari 16, 2012 in Uncategorized

Pagi ini, sambil sarapan saya disuguhi cerita khas ibu-ibu. Ceritanya biasa saja sebenarnya, sumbernya pun hanya obrolan ibu-ibu sambil momong dan menyuapi si kecil.  Kebenarannya pun masih belum ditabayunkan. Tapi setidaknya ini menjadi pelajaran buat saya dan keluarga.

“Kemarin ibunya Bunga cerita,” kata istri saya membuka obrolan pagi tadi. “Dulu sebelum mbah Bejo meninggal, anaknya tak begitu peduli padanya. meskipun hidup bersama anaknya tapi mbah putrilah yang mengurus kehidupannya.” Istri saya bercerita sambil menyomot telur goreng campur daun melinjo. “Pernah suatu ketika mbah Bejo ingin makan bakso, tapi sang anak menjawab permintaan ayahnya itu dengan mengatakan, ‘Ra ndue duit (gak punya uang_red)’,” cerita istri saya yang katanya sanadnya sampai si mbah putri sendiri. “Kali lain, si anak membeli ayam 1 kg tapi mbah bejo hanya dikasih sayapnya, satu pula. akhirnya mbah putri membelikan sendri untuk mbah bejo.” Istri saya terus bercerita sambil memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke mulutnya.

Perbincangan kami beberapa hari ini memang tak lepas dari mbah bejo yang meninggal beberapa hari lalu. Mulai dari obrolan ketika takziah, kiriman makanan ke keluarga kami dari ahli warisnya, kotak infak yang dikelilingi taburan bunga, sampai cerita pagi ini. Sebenarnya mbah bejo bukan tokoh masyarakat yang kehidupannya perlu dibuatkan buku biografi untuk dikenang. Ia hanya tetangga biasa yang sehari-hari bekerja menggembala kambing. tapi bagaimanapun, di lingkup sebuah kampung, berita tentang seseorang bisa mudah sekali tersebar.

Semua itu sebenarnya hanya karena setiap malam, setelah kematiannya, kami mendengar suara orang “yasinan”. Setiap malam, anak-anaknya mengumpulkan beberapa orang untuk berdoa. suatu kali saya memang pernah melempar statemen kepada istri saya, “mungkin anak-anaknya tidak  PD mendoakan bapaknya sehingga harus meminta orang untuk mendoakannya.”

Cerita pagi ini masih berhubungan dengan statemen saya itu sebeneranya. di akhir kisah, istri saya mengambil kesimpulan yang cukup menarik, “Berapa ya pengeluaran permalam untuk orang-orang yang mendoakan ayahnya setelah meninggal. mahal mana dengan semangkuk bakso yang diinginkan sang ayah ketika masih hidup.”

Kesimpulan inilah yang membuat saya ingin menuliskannya di sini. Berbagi dengan rekan-rekan, betapa sering kita meremehkan bakti kepada orang tua ketika mereka masih hidup. Padahal hal itu diwajibkan. Sementara setelah sang ayah meninggal anak rela mengeluarkan berapa pun biaya untuk membahagiakan ayahnya, meskipun dengan perbuatan yang tidak disyariatkan.

Di hari kematian mbah Bejo, di status FB saya sempat menulis, “Anak soleh bukanlah yang paling banyak menabur bunga atau meletakkan kendi di atas pusara ayahnya. Atau ia yang mengadakan acara dihari-hari tertentu setelah kematian orang tuanya. Anak sholeh adalah yang tak lelah berdoa untuk ayahnya tak berbatas waktu.

Fenilketonuria

Posted: Juni 21, 2010 in Uncategorized

Hari ahad seperti biasanya menjadi hari refresh bagi saya dan keluarga. Kegiatan rutin hari ahad adalah jalan-jalan pagi di pematang sawah kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi. Tidur siang juga menjadi acara rutin mingguan. Maklum, pada hari biasa kami tidak punya kesempatan untuk merasakan nikmatnya tidur siang. Sore hari biasa kami isi dengan nonton film sambil makan snack.

Saya memiliki selera snack yang berbeda dengan istri. Saya lebih suka makanan ringan tradisional, seperti serabi, pisang goreng, dan sebangsanya. Sedang istri, ia lebih suka makanan yang kriuk-kriuk, seperti krupuk, pilus, kacang atom, dan lain-lain.

Kemarin, setelah berembug cukup lama, kami mencapai kesepakatan membeli makanan kriuk-kriuk tapi tradisional, yaitu rempeyek kacang. Makanan yang akan menemani kami menyaksikan Prince of Persia. Setelah sampai di warung, kami tergiur juga untuk membeli sebungkus kacang atom. Ada satu kebiasaan kami ketika membeli makanan, yaitu membolak-balik kemasannya untuk mencari label halal, expire date, dan memastikan bukan produk danone, unilever, dan produk yahudi lainnya.

Saat membolak-balik  plastic bungkus kacang atom, saya membaca peringatan yang tertulis di sana. Peringatan itu berbunyi:

Mengandung gula dan pemanis buatan”

“Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita Fenilketonuria”

Sebagai orang awam masalah medis, agak ragu juga saya untuk membeli makanan tersebut (meskipun akhirnya dibeli jugaJ). Bukan karena saya paham tentang penyakit itu, tapi justru karena saya tidak paham. Saya khawatir jika ternyata saya adalah salah satu penderita penyakit dengan nama keren itu. Mau tanya, bingung mau tanya kemana dan dengan siapa.

Akhirnya saya sempatkan untuk bertanya pada paman Google. Wah ternyata banyak situs yang sudah mengunggah penyakit ini. Dalam wikipedia.org dijelaskan begini:

Fenilketonuria (bahasa Inggris: Phenylketonuria, PKU) adalah gangguan desakan autosomal genetis yang dikenali dengan kurangnya enzim fenilalanin hidroksilase (PAH). Enzim ini sangat penting dalam mengubah asam amino fenilalanina menjadi asam amino tirosina. Jika tubuh kekurangan PAH, fenilalanina akan mengumpul dan berubah menjadi fenilketon, yang bisa dideteksi dari urin.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menimbulkan masalah dalam perkembangan otak, menyebabkan fungsi mental menurun drastis dan serangan-serangan. Meski demikian, PKU merupakan salah satu dari sedikit penyakit genetis yang bisa dikendalikan melalui diet. Pasien yang diet rendah fenilalanina dan tinggi tirosina hampir dapat sembuh total.

Paham? Syukurlah kalo Anda paham. Terus terang ketika membaca penjelasan itu saya belum paham. Terlalu banyak kata asing yang belum saya mengerti. Akhirnya saya meraba-raba jenis penyakit apa mbak Fenilketonuria (Anda bisa memanggilnya mbak Feni, Nuri, atau Ria juga boleh ;) ) ini.

Paragraph pertama wikipedia saya lewati. Saya tidak paham apa itu autosomal genetis, enzim fenilalanin hidroksilase, asam amino fenilalanina, asam amino tirosina, dan juga fenilketon (bagi pembaca yang mau bantu menjawab bisa ditulis di kolom komentar). Yang bisa saya tangkap bahwa penyakit ini diwariskan secara genetik.

Dari paragraf kedua wikipedia setidaknya saya tahu bahwa penyakit ini akan menimbulkan masalah dalam perkembangan otak dan menurunnya fungsi mental. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan cara tidak mengonsumsi makanan yang mengandung fenilalanin (salah satu jenis asam amino esensial).

Sekarang masih ada yang mengganjal tentang dimana saja kita bisa menemui fenilalanin. Owh, ternyata zat ini banyak terdapat pada makanan dan minuman rasa buah, biasa disingkat Phe atau F. Kalau membahas tentang fenilalanin biasanya dikaitkan dengan aspartam.

Jadi kesimpulan sementara saya, fenilalanin adalah pemanis buatan (betul gak ya?). Tapi, kenapa ditulis dengan bahasa yang orang awam banyak tidak paham ya? Beruntung saya punya internet (meskipun buka di internet juga masih bingung), bagaimana dengan yang tinggal di desa-desa? Apakah produsen kesulitan cari padanan katanya dalam bahasa Indonesia atau sengaja menutupi bahayanya?

Kalau saya buka health.detik.com saya mendapat informasi bahwa bayi yang baru lahir dengan dengan penyakit ini (Fenilketonuria_red) tidak memiliki gejala apapun. Tanda-tandanya akan muncul setelah beberapa bulan. Gejalanya antara lain:

ü Menurunnya fungsi mental

ü Perilaku atau masalah social

ü Kejang, tremor, atau gerakan yang menghentak dikaki

ü Hiperaktif

ü Pertumbuhan terhambat

ü Ruam kulit (eksim)

ü Ukuran kepala kecil (microcephaly)

ü Napas, kulit, dan urin bau

Mulai sekarang jadi pilih-pilih deh kalo mau beli makanan. Secara, timbang jadi bego….

Tamu Tak Diundang

Posted: Juni 7, 2010 in Uncategorized

Seorang lelaki berbadan tinggi tegap berdiri di depan rumah seorang warga. Pintu pun diketuk dan tuan rumah pun membukakan pintu rumah tersebut. Dengan sopan si tamu yang tak diundang itu mengutarakan maksud dan tujuannya, yang tidak lain dan tidak bukan, numpang kebelakang. Ia terlihat membawa barang yang cukup banyak dan berjanji akan membaginya bila diizinkan masuk. Ia pun masuk membawa serta barang bawaannya. Karena melihat si tamu yang terlihat lelah, tuan rumah yang ramah menawarkan ruangan untuk istirahat. Setelah segar, si tamu pun pamitan. Sebelum pulang, si tamu mendekati tuan rumah, “maaf, beribu kali maaf, trimakasih atas kebaikan Anda. Tapi saya harus menembak Anda.” Tuan rumah pun kaget tapi tak bisa berbuat banyak karena darah telah mengalir dari tubuhnya dan segera tak sadarkan diri, mati. Keesokan harinya, koran-koran mengangkat berita itu begini, “Seorang teroris tewas tertembus peluru panas. Polisi menemukan sebuah senjata laras panjang di kamar mandi rumah tersebut. Di salah satu kamar rumah tersebut juga ditemukan pistol, kompas, radio, peta, pisau, dan barang-barang militer lainnya.” Setelah berita tersebar, putra si tuan rumah masih tetap tersenyum karena merasa bangga telah membantu negara dengan tertangkapnya teroris. Ia bangga meskipun yang dituduh teroris adalah ayahnya sendiri.

Bagaimana pendapat Anda tentang kisah tersebut. Bagaimana menurut Anda tentang sikap si anak yang bersikap demikian? Bagaimana bila Anda adalah tetangga terdekat dari si korban. Anda tahu betul bagaimana kehidupan sehari-hari tuan rumah yang akhirnya menjadi korban itu. Atau bahkan mungkin tuan rumah itu adalah Anda, pembaca?

Demikianlah kira-kira kasus yang terjadi di Pakistan bila digambarkan secara sederhana. Amerika datang sebagai tamu di negeri tersebut. Si tuan rumah pun dengan lugunya menerima kehadiran tamu yang menawarkan banyak hal. Setelah diberi ruang (Kedubes), Amerika menjadikannya sebagai gudang senjata. Petugas kepolisian Islamabad pada hari Sabtu mencegat kendaraan Shezore yang mencurigakan di pos pengawasan Zero Point.

Selama pemeriksaan, terungkaplah bahwa dua orang yang mengendarai mobil itu, Noushad dan Lal Badshah, membawa barang-barang kargo yang terdiri dari 35 peti M-16, 13 peti senapan 9 mm, beberapa kantong pistol, kompas, radio, peta, pisau, dan barang-barang militer lainnya. Semua senjata itu bukan untuk membunuh siapa-siapa, melainkan warga Pakistan sendiri.

Memang selama ini Washington mengklaim target penyerangannya adalah ‘militan’. Namun, siapa pun akan mengetahui bahwa selama ini serangan keji AS itu menyebabkan kematian warga sipil. Sejak bulan Agustus 2008, serangan pesawat tanpa awak telah menewaskan hampir seribu warga wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Jatuhnya korban sipil ini pun menjadi sebab menegangnya hubungan antara Islamabad dan Washington. Pemerintah Pakistan berulang kali menyuarakan keberatan terhadap serangan, meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa sebenarnya pemerintah Pakistan mengetahui dan memberikan izin pada tuannya (AS) untuk beraksi dan membantai rakyatnya sendiri di Pakistan.

Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) itulah nama misi kemanusiaan yang diikuti oleh sekitar 750 orang dari 50 negara. Tujuan misi ini adalah memberi bantuan kepada penduduk Gaza yang mengalami blokade oleh Israel dan Mesir selama tiga tahun belakangan ini. Bantuan seberat 10 ribu ton yang dibawa oleh 6 kapal Freedom Flotilla itu termasuk bahan bangunan, ratusan kursi roda listrik, dan alat-alat penjernih air.

Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kapal yang berpenumpang sejumlah tokoh seperti pemenang Nobel, beberapa anggota DPR dari Irlandia dan Jerman, dua pensiunan diplomat AS, veteran kolonel Angkatan Laut AS, jurnalis, aktivis, penulis, dan pebisnis itu harus berhadapan dengan peluru-peluru panas bangsa kera, Israel.

Israel mengklaim bahwa pasukan mereka ditembaki saat mencegat konvoi enam kapal tersebut sampai empat tentara Israel terluka. Hal inilah yang membuat mereka harus menyerang.

Statemen militer Israel yang dilansir oleh kantor berita Reuters (31/5/2010) mengungkapkan, “Para pejuang Angkatan Laut mengambil alih enam kapal yang mencoba melanggar blokade laut (di Jalur Gaza).” “Selama pengambilalihan itu, tentara-tentara menghadapi kekerasan fisik serius oleh para aktivis yang menyerang mereka dengan peluru asli,” demikian pernyataan militer Israel.

Ya, ya, ya, bisa dimaklumi. Mereka menyerang karena terpaksa. Jangan mencela apalagi mengutuk. Mereka membela diri kok. Kenapa banyak orang yang marah? Mereka melawan, sehingga wajarkan kalau diperangi? Wajarkan kalau ditembaki? Mengapa juga kita ikut berbela sungkawa dan merasa menyesal atas kejadian ini? Apa karena mereka aktivis kemanusiaan sehingga layak diberi bela sungkawa?

Ah, dari perairan Ciprus atau dekat pintu masuk Gaza saya pulang ke negeri tercinta. Negeri impian, kata pak Pramudya, ketika semua orang sama derajatnya di depan hukum. Beberapa waktu lalu di negeri saya ada orang-orang yang ditembaki.

Alasannya hampir sama, “terpaksa” karena mereka melakukan perlawanan. Tapi ada beberapa hal yang berbeda. Pertama, tidak ada orang yang mengutuk sang penembak. Mungkin karena yang ditembak bukan aktivis kemanusiaan. Kedua, orang-orang tidak tahu siapa yang ditembak. Mungkin karena mereka bukan peraih nobel, bukan anggota DPR, dan bukan jurnalis. Bahkan para penembak ternyata tidak tahu sebenarnya mereka siapa. Dengan begitu, orang-orang harus percaya bahwa mereka layak dibunuh. Mereka benar-benar melakukan perlawanan.

Sore menjelang petang, saya bertanya-tanya. Apakah mereka yang menembaki dengan helikopter itu pernah berkunjung dan belajar di negara saya ya? Sehingga mereka pintar membuat alasan yang sama. Atau mereka teman kecil yang pernah bermain bersama. Atau mereka pernah satu sekolah dengan guru yang sama. Atau ….. masih banyak atau yang lain yang mengambang di otak saya.

Demam Reality Show

Posted: Mei 28, 2010 in Uncategorized

Tren acara televisi di Indonesia selalu berubah. Dahulu pemirsa TV sangat gemar dengan tayangan telenovela, kemudian tren berubah menjadi horor misteri, drama percintaan, dan yang tak asing saat ini adalah reality show. Sebenarnya tidak cukup tepat bila dikatakan pemirsa TV gandrung dengan acara-acara tersebut, sebab sebenarnya mereka dipaksa untuk menyaksikannya. Pihak TV-lah yang mengatur semuanya tanpa pemirsa berhak memberikan komentar. Kembali, hampir semua stasiun TV saat ini memiliki acara reality show. Konsep reality show sebenarnya masih menjadi perdebatan. Menurut Wikipedia, acara reality show adalah jenis acara televisi yang menggambarkan adegan yang seakan-akan benar-benar berlangsung tanpa skenario, dengan pemain yang umumnya khalayak umum biasa, bukan pemeran. Acara RS umumnya menampilkan kenyataan yang dimodifikasi dan melalui penyuntingan dan teknik-teknik pascaproduksi lainnya. Itulah sebenarnya pengertian reality show jadi tak perlu gusar ketika Anda dibohongi oleh acara yang katanya realitas. Naasnya, konsep reality show sepertinya tidak hanya dalam dunia intertainment saja. Untuk menarik penonton, stasiun TV berlomba membuat reality show. Baru-baru ini sebuah stasiun TV swasta diperkarakan dalam kasus makelar palsu. Hanya karena sedang hangat masalah markus, seorang yang tidak tahu menahu tentang makelar dipaksa ngomong tentang makelar. Akhirnya terjadilah “reality show” markus. Ini yang terungkap. Bagaimana dengan para pengamat jadi-jadian yang muncul saban hari ketika sedang hangat kasus terorisme? Ketika orang dengan mudah menilai orang lain lantaran gelar pengamat, ustad, atau gelar lain yang disematkan oleh TV itu sendiri. Bukan gelar akademis yang butuh sekolah bertahun-tahun. Saya tidak berani mengatakan bahwa itu reality show, tapi setidaknya kita perlu berpikir ulang untuk percaya acara TV, apapun bentuknya. Bagaimana, masih percaya acara (meskipun namanya berita) TV?

Saya baru saja selesai membaca Bumi Cintanya kang Abik. Agak telat mungkin karena novel yang saya baca sudah cetakan kedua. Terus terang saya termasuk satu dari sekian juta penggemar penulis Indonesia yang bersinar dengan Ayat-Ayat Cintanya ini.

Melihat karyanya, saya teringat kembali dengan HAMKA. Sosok da’i yang menyapa mad’unya tidak hanya lewat kata tapi juga lewat sastra. Mencari orang seperti ini agak sulit. Lebih sulit dari dai yang menulis buku “teks” agama, meskipun tidak mudah juga menemukan sosok yang “ya dai, ya penulis.”

Di Bumi Cinta ada banyak pelajaran berharga yang bisa saya ambil selaku seorang muslim. Sebab, di Bumi Cinta nasihat bisa tumbuh subur. Namun, selaku pembaca sastra murni saya agak kecewa. Pasalnya, novel terbaru kang Abik ini terkesan berat. Banyak pelajaran yang disampaikan secara blokosuto, seperti ketika membaca buku pelajaran atau materi seminar. Gaya bernasihat kang abik yang biasanya disampaikan secara integral dengan sang tokoh utama, beralih menjadi artikel-artikel panjang.

Ada beberapa bagian yang saya lompati ketika membaca novel ini karena saya anggap bertele-tele. Untungnya, (atau sayangnya, saya tidak tahu) cerita itu tetap nyambung meski yang saya lompati hampir tiga lembar. Ini membuktikan bahwa ada beberapa bagian yang menurut saya bisa diringkas. Selain itu, kang Abik juga agak lambat ketika memutuskan untuk menjelaskan tentang hukum bersalaman dalam Islam. Padahal, menurut saya hal itu justru tidak berat untuk dikatakan secara terbuka.

Ada satu hal yang masih khas di semua novel kang Abik, yaitu super hero. Tokoh utama adalah manusia super, di bumi cinta bahkan terkesan seperti malaikat. Tidak ada kesan bahwa ia seorang manusia biasa yang bisa saja tertarik dengan lawan jenis. Justru beberapa kali peristiwa ketertarikan dengan lawan jenis dimunculkan pada saat yang kurang tepat (sekali lagi ini masih menurut saya).

Sampai terakhir membaca, saya tidak menemukan sesuatu yang menegangkan (tanpa konflik). Jebakan kaum Zionis diselesaikan dengan datar-datar saja, tanpa konflik yang nyata. Meskipun begitu, kang Abik sukses mendeskripsikan Rusia. Pembaca diajak menelusuri jalan-jalan kecil di sana. Bagaimanapun, berjalan-jalan di Bumi Cinta bersama kang Abik masih cukup menarik untuk dilakukan.

fenomena nabi palsu

Posted: Mei 26, 2010 in Uncategorized

Bulan Februari lalu agaknya menjadi bulan yang sangat subur untuk tumbuhnya nabi-nabi palsu di Indonesia. Warga Sumenep, Madura digemparkan dengan pengakuan seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai nabi. Wanita bernama Samawiyah (30) ini tinggal di desa Angon Angon, Arjasa, Pulau Kangean.  (detiksurabaya.com:22/2/2010). Samawiyah yang mengaku sebagai nabi mengganti namanya menjadi Siti Hajar. Menurutnya, nama itu langsung di dapatkan dari Allah melalui wangsit. Uniknya, wangsit itu didapat dengan cara kesurupan saat mengisi pengajian di rumahnya. Beruntunglah wanita ini diberitakan telah bertobat.

Beberapa hari sebelumnya (05/02/2010), portal berita yang sama menurunkan berita datangnya nabi palsu di Bandung yang bernama Ahmad Sayuti. Ia mengaku bahwa Al-Qur’an turun pada tahun 1993 saat dirinya mendapat wahyu. Ini untuk kedua kalinya Bandung kedatangan nabi palsu. Pada tahun 2007 Bandung digegerkan dengan Ahmad Mosadeq yang mengaku nabi dengan sebutan Al-Masih Al-Maw’ud.

Pada tanggal 02/02/2010, Voa-Islam.com menurunkan berita yang hampir sama. Syamsuddin, lelaki asal Polewali Mandar, lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar tahun 2008, mengaku sebagai nabi Khidir. Pimpinan aliran Puang Malea ini mengajarkan kitab suci baru yang menurutnya merupakan gabungan dan rangkuman dari Zabur, Turat, Injil, Suhuf, dan Al-Qur’an. Bagi UIN (IAIN) secara umum, ini merupakan kasus kedua lulusannya menjadi nabi palsu. Sebelumnya, Abdul Rahman, jebolan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997 mengaku sebagai reinkarnasi (jelmaan kembali) Nabi Muhammad Saw dalam aliran Lia Eden.

Bermunculannya orang-orang yang mengaku sebagai nabi palsu sudah ada sejak dulu. Ketika Nabi Saw masih hidup saja sudah ada orang yang berani mengaku-ngaku sebagai nabi. Mereka adalah Aswad Al-Ansi dan Musailamah Al-Kadzdzab.

Nabi-nabi palsu itu tentu tidak diakui dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa tidak ada nabi lagi sepeninggal Nabi Muhammad Saw:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).

Rasulullah juga pernah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti Harun as bagi Musa as? Akan tetapi bahwasanya tak ada lagi nabi sepeninggalku.” (HR Bukhari).

Jadi, jelaslah bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi setelahnya. Kalau ada yang mengaku rasul, kita tak perlu ragu untuk mengingkarinya. Orang yang telah mengaku nabi harus segera bertobat dan membaca syahadat kembali sebelum mati, sebab mereka telah mengatakan kalimat kekufuran. Begitu juga para pengikut dan yang membenarkannya.

Mawar

Posted: April 3, 2009 in Uncategorized

Sudah lama mawarku merana dalam kesendirian yang tak berkesudahan. Tubuhnya menjulur panjang mengejar matahari. Tak ada daging yang mengisi kulit dan melindungi tulang belulang . Ia hanya terbujur di atas tanah hitam yang hanya sebatas mata kaki. Hujan telah mengeruk tanah tempat hidup makhluk Allah yang indah itu.

Tapi hari ini mawarku berbunga lagi, seksi. Kelopak merahnya menumpuk cantik dengan aroma harum semerbak. Tubuhnya yang kurus tak henti-hentinya memberikan keindahan di tamanku. Mawarku menjadi penyemangatku untuk terus berguna dan memberikan keharuman bagi lingkunganku. Dulu aku sempat berpikir bahwa mawarku begitu angkuh. Dia indah tetapi menyimpan duri ditubuhnya. Ternyata aku salah, justru duri itulah yang melindungi dirinya agar tak sembarang orang bisa memetik bunganya. Karena mawar itu indah.

Bunga itu seakan tau isi hatiku. Aku tak pernah memerhatikannya tapi ia tetap berbunga. Ya Allah, izinkanlah aku memetiknya. Menjadikannya hiasan dalam tidur dan terjaganya aku. Jadikanlah mawarku anugerah terindah yang dapat menuntunku menjadi lebih baik. Menjadi lentera dalam gelap, menjadi payung kala hujan, menjadi tongkat ketika aku terkilir, menjadi peta ketika ku salah melangkah.

Rabbi, biarkanlah mawar ini senantiasa mekar dan menjadi pengharum di setiap tarikan nafasku. Rabbi, kuatkanlah pijakan kakiku di jalanmu. Jadikan mawarku bermekaran di taman hatiku.

Quovadis Partai Islam

Posted: Maret 26, 2009 in Uncategorized

Saya tertarik menulis tentang hal ini begitu membaca satu berita di inilah.com yang berjudul, ‘Duet SBY-Hidayat Mustahil Terbentuk’, yang ditulis oleh Raden Trimutia Hatta. Ada satu hal yang menarik yang menurut saya bisa membuka cakrawala pembaca (muslim khusunya), yaitu masihkah berharap pada Demokrasi.

Dalam tulisan tersebut terang sekali bagaimana sebuah koalisi bisa terbentuk. Tentu saja semua orang telah mafhum bahwa koalisi berdiri atas dasar kepentingan (menang-kalah), bukan benar-salah. Ada yang menarik dari ujaran peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) , Burhanudin Muhtadi kepada inilah.com dalam berita tersebut.

“Yang perlu dikritisi, SBY jangan terlalu gegabah dalam memutuskan untuk segera berkoalisi dengan PKS meski PKS tampaknya sudah bulat mendukung SBY,” katanya.

Ada apakah dibalik pernyataan ini?

Burhanudin berkomentar lagi, “”Kalau hanya sekadar power sharing parpol akan dapat berapa menteri di kabinet tak ada masalah. Tapi yang bahaya jika kelompok Islam itu nantinya menuntut terlalu banyak untuk agenda negara yang pro-Islam,” pungkasnya.

Inilah politik. Masyarakat muslim (termasuk juga PKS yang pada awal berdirinya begitu kuat menghasung penegakan syariat) harusnya mulai sadar bahwa berharap pada demokrasi sebagaimana berharap pada setan gundul. Belum lagi menang (baru ngomong-ngomong tentang koalisi) sudah tercetus pernyataan seorang peneliti, yang kalau dilihat dari namanya ia seorang muslim, bahwa umat Islam akan menuntut terlalu banyak untuk berdirinya negara yang pro Islam. Satu kekhawatiran yang cukup mendasar menurut saya.

Ketika bertanya kepada pemilih partai Islam (dalam hal ini lebih spesifik PKS) sebagian besar mereka berharap berdirinya negara atas dasar syariah. Warning yang diberikan Burhan kepada PD merupakan bukti bahwa cengkraman tangan setan yang menghendaki negara sekular di Indonesia masih sangat kuat. Belum apa-apa kita sudah diingatkan agar berhati-hati dengan partai Islam. Tampaknya, akan sangat sulit menerapkan syariat lewat jalur ini (parlemen).

PKS mungkin memang telah meniru (sengaja tidak saya gunakan kata: tidak mengambil pelajaran dari) beberapa pendahulunya di beberapa negara lain seperti Turki dan Palestina. Indonesi menjadi lahan trial and error selanjutnya untuk melakukan fungsi penegakan syariat melalui parlemen.

Dari pernyataan penghusung demokrasi di atas, bagi setiap orang yang menghendai berdirinya negara Islam seharusnya paham bahwa hal itu sangat sulit bila disandarkan pada sebuah partai meskipun membawa label  partai Islam, partai dakwah, atau partai apalah. Saya tidak bermaksud melakukan Black  Campaign terhadap satu partai tertentu di sini. Tetapi saya merasa terpanggil untuk menulis dan mengingatkan masyarakat (masyarakat muslim khususnya) bahwa ada satu jalan yang ditempuh oleh para salaf ketika mendirikan negara Islam; Jihad.