ratuku

Latar Belakang

In Uncategorized on April 17, 2009 at 6:44 am

Beberapa hari ini mas Bontot kerap senyum-senyum sendiri di pelataran rumah barunya. “Meskipun statusnya baru ngontrak, tapi harus disyukuri,” kata mas Bontot bijak. Ia mempunyai kegiatan rutin setiap pagi sekarang, yaitu leyeh-leyeh di beranda yang kadang belepotan tai ayam tetangga. Latar depan rumah baru mas Bontot memang asri. Pepohonan, mulai dari pohon kelapa, pohon pisang, pohon mlinjo seperti beradu tinggi di latar depan rumah bercat krem itu.

Ada satu hal yang sempat mengusing kenyamanan mas Bontot di awal ia menempati rumah barunya. Tepat di depan beranda ada sebuah bangunan seperti kolam yang sudah tak terpakai. Kolam itu sekarang dipenuhi tanah. Tangan mas Bontot di dorong oleh otaknya yang dari sananya sudah kreatif dan plus suka usil iseng ngeduki tanah yang ada di dalamnya. “Badalah… kok miring,” rutuk mas Bontot. Bangunan kolam itu ternyata tidak seperti kolam kebanyakan yang bolong jlujur segi empat. Kolam yang ada di depan rumah mas Bontot itu  pada salah satu sisinya berbentuk miring, yaitu yang berada di sisi utara. Selain itu, kolam ini juga tidak memiliki pipa pembuangan.

Otak mas Bontot langsung penuh dengan segala praduga. Ia mulai menduga segala hal yang mungkin. Berbagai prediksi pun di tata secara serampangan di rak-rak otak. jangan-jangan…

Paklik Tonggo Baru yang kebetulan ada di lokasi, tak luput dari pertanyaan mas Bontot, “Kolam nopo tho niki mas?” Paklik yang masih enom kinyis-kinyis itu menjawab dengan nada yang kurang bersahabat, “kodok.” Mak jenggirat, mas Bontot kaget, lha kodok kok diternak.

Sebenarnya apa yang membuat mas Bontot begitu penasaran untuk membongkar teka-teki kolam itu?

Hal itu tak lain dan tak bukan karena latar belakangnya. Lho kok? Ya, latar belakang kolam itu dan hal ini berkaitan dengan latar belakang alias area di belakang rumah mas Bontot. Rumah mas Bontot berbatasan langsung dengan rumah-rumah kecil yang membujur dari utara ke selatan (atau dari selatan ke utara ya…). Kata orang-orang sih peristirahatan terakhir… tapi siapa yang tau  kalau penghuninya tidak sedang beristirahat melainkan lagi kerja (hiii….).  Yang pasti, latar belakang rumah mas Bontot dihiasi dengan kamboja dan kembang kantil. Kalau malam bau harum kembang kantil itu sering berusaha menyeruak masuk juga kerumah mas Bontot (walah…).

Mas Bontot begitu penasaran dengan kolam yang ada di depan rumah lantaran khawatir jangan-jangan kolam itu bekas rumah mungil yang rata-rata dikramik (waduh….).

Tapi, akhir-akhir ini kecurigaan mas Bontot sudah agak hilang. Terutama waktu Kang Jembling yang asli Solo Tigo datang ikut ngurek-urek kolam itu. “Dudu kok mas…,” katanya. Kata-kata kang Jembling tentang kolam yang sempat membuat mas Bontot tidak bisa tidur beberapa hari itu cukup membuat hati mas Bontot ayem.

Sekarang  mas Bontot mulai bisa senyam-senyum sambil memandangi bekas kolam itu. Tapi, benarkan lantaran teka-teki kolam itu telah terbongkar sehingga mas Bontot bisa tersenyum? Atau adakah sebab lain? Yakinkah Anda penjelasan kang Jembling cukup kuat untuk membuat mas Bontot selalu senyum di pagi hari?

Ikuti terus petualangan mas Bontot dan tunggu tanggal mainnya.. eh tunggu jawabannya.

Menikmati Jaman Edan

In Uncategorized on April 3, 2009 at 8:05 am

Sore kemarin mas Bontot dapat kesempatan keluyuran sore. Sambil njemput mbakyu sulung di prambanan, mas Bontot niat ngengsreng. motor di starter jam 4 lebih 10 dengan kualitas bensin ketap-ketip 2 jarum digital di spedometer. setelah nyetater motor, mak wus mas Bontot memacu karisma tuanya kenceng-kencang. lha mau bagaimana lagi lha mbak sulung rencananya akan bertahan di prambanan sampai jam setengah enam sebelum kemudian balik kanan ke Lampung lagi.

Baru menikmati perjalanan beberapa saat, suara grang-grong-grang-grong menyobek-nyobek telinga mas bontot. lha ono opo tho…? Mas Bontot grundel di hati. Badalah… mas Bontot kaget mak njenggirat ketika di depannya sekumpulan mahluk merah besar nan seram mengendarai kendaraan yang bersuara keras. Buto opo yo…? Kalo cuma satu mungkin mas Bontot bisa cepet-cepet istighfar terus butone ilang. Lah kalo segerombolan begini bagaimana njajal? Padahal jelas kualitas mas Bontot gak sebagus Umar bin Khatab yang bisa membuat setan lari terbirit-birit.

Setelah benar-benar dekat mas Bontot baru nyadar ternyata tubuh merah besar itu masih dari keturunan manusia juga, bukan buto atau gendruo. lha kok tau? Lha iya, lha wong di antara segerombolan makhluk sangar itu ada yang bawa botol minuman. O… ladalah, jebule tubuh merah besar bermata merah dan bertanduk itu masih butuh minum layaknya manusia kebanyakan.

Mengenai suara bising yang sempat hampir merobek kuping mas Bontot, mas Bontot baru nyadar bahwa mereka hidup di peradaban yang berbeda. Di jamannya mas Bontot ilmu pengetahuan memang sudah maju. Knalpot biar suara kendaraan tidak merusak gendang telinga sudah ditemukan. Lha klo dinegaranya dul semprul yang beraninya gerombolan tadi knlapot belum ditemukan sehingga kendaraan menghasilakan polusi yang tak terkira; polusi udara, polusi suara, plus polusi hati, ngenes.

Tapi bagaimana lagi, mas Bontot harus menikmatinya dengan lapang dada. Lha namanya juga jaman EDAN “Era Demokrasi premAn,” kalo tidak ikut ngedan ya gak kebagian; Minimal gak kebagian uang 25 ribu dan kebebasan tanpa aturan.

Yasudahlah. Mas Bontot memacu motornya lagi lebih kencang. Hujan mulai turun satu demi satu dari langit (lha iya mosok dari tanah).

Mawar

In Uncategorized on April 3, 2009 at 7:29 am

Sudah lama mawarku merana dalam kesendirian yang tak berkesudahan. Tubuhnya menjulur panjang mengejar matahari. Tak ada daging yang mengisi kulit dan melindungi tulang belulang . Ia hanya terbujur di atas tanah hitam yang hanya sebatas mata kaki. Hujan telah mengeruk tanah tempat hidup makhluk Allah yang indah itu.

Tapi hari ini mawarku berbunga lagi, seksi. Kelopak merahnya menumpuk cantik dengan aroma harum semerbak. Tubuhnya yang kurus tak henti-hentinya memberikan keindahan di tamanku. Mawarku menjadi penyemangatku untuk terus berguna dan memberikan keharuman bagi lingkunganku. Dulu aku sempat berpikir bahwa mawarku begitu angkuh. Dia indah tetapi menyimpan duri ditubuhnya. Ternyata aku salah, justru duri itulah yang melindungi dirinya agar tak sembarang orang bisa memetik bunganya. Karena mawar itu indah.

Bunga itu seakan tau isi hatiku. Aku tak pernah memerhatikannya tapi ia tetap berbunga. Ya Allah, izinkanlah aku memetiknya. Menjadikannya hiasan dalam tidur dan terjaganya aku. Jadikanlah mawarku anugerah terindah yang dapat menuntunku menjadi lebih baik. Menjadi lentera dalam gelap, menjadi payung kala hujan, menjadi tongkat ketika aku terkilir, menjadi peta ketika ku salah melangkah.

Rabbi, biarkanlah mawar ini senantiasa mekar dan menjadi pengharum di setiap tarikan nafasku. Rabbi, kuatkanlah pijakan kakiku di jalanmu. Jadikan mawarku bermekaran di taman hatiku.