Tanggal merah Imlek yang jatuh hari senin tampaknya cukup menggembirakan bagi para karyawan termasuk saya. Libur dua hari minggu senin kali ini pun saya sempatkan untuk jalan-jalan bareng teman-teman. Setelah penat kerja dan urusan rumah ceritanya kami ingin backpaker domestik ke salah satu kota di jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Ya, kota Ngawi. Kota kecil dengan menu khas pecel (disetiap warung makan pasti menunya pecel) sampai seorang berseloroh, “kayaknya satu kabupaten makan siangnya sama semua nih. semua pake pecel.” Makan pecel dan teh anget gak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga satu porsi pecel hanya Rp 3.000 plus teh hangat Rp 1.000. Ini sudah porsi besar. Ada juga makanan khas lain yaitu soto. Sotonya agak berbeda dengan soto solo. Soto di sini lebih mirip seperti kare ayam. Kuahnya kental. Harga soto disini lagi-lagi sangat murah hanya Rp 5.000. Ini untuk soto ayam kampung. Kalo ayam broiler mungkin hanya sekitar Rp 3.000 juga.
Karena berniat jalan-jalan, kami sengaja betul-betul berjalan kaki menyusuri kota ngawi. Mulai dari terminal sampai alun-alun yang jaraknya kurang lebih 5km. Agak tidak nyaman juga berjalan kaki di sini karena Ngawi memang kota sejuta bentor (becak yang dimodifikasi dengan mesin disel). Disepanjang jalan kami selalu ditawari untuk naik bentor. “Murah mas yo Rp 4.000 gak papa,” teriak mereka kepada kami yang berjalan bertiga.
Karena kesal ditawari dan penasaran mengapa disini bankyak sekali bentor akhirnya kami ajak mereka ngobrol (sekalian istirahat). Setelah bertanya-tanya dengan para supir bentor ternyata untuk memiliki bentor di sini tidak sulit (pantas saja disepanjang jalan menjadi tempat mangkal bentor). cicilan bentor ke Bank hanya Rp 5.000 perhari. sedang harga bentor sekitar Rp 3 juta sampai Rp 3.5 juta. bentor termasuk sarana transportasi yang irit bahan bakar. “sehari paling ngisi satu liter. itu dah bisa buat kliling-kliling,” kata para tukang bentor.
Sudah puas tanya-tanya kami pamitan pergi melanjutkan jalan kaki. Ketika melewati sebuah warung pakaian di depan pasar, segerombolan cewe bersiul kepada kami. Kami pun cuma cengar cengir aja. Tapi jiwa detektif kami jadi berfungsi kembali, kenapa ya mereka nyuiti (jawa-red) kami. Ketika nongkrong di alun-alun kami baru tahu bahwa Ngawi memang krisis Cowok ganteng. setiap pasangan pacaran yang kami temui selalu seorang wanita cantik dan pemuda (maaf) kurang tampan. Kami bertiga sepakat cewe ngawi memang bersih-bersih dan cantik-cantik. haha